Minggu, 06 Maret 2016

Menjejaki Keindahan Pantai Tanjungsiambang

          


Siapa bilang Tanjungpinang tidak memiliki pantai yang indah menawan? Cobalah kunjungi Pantai Tanjungsiambang. Sihir senjanya membikin syahdu, pasir putihnya membikin rindu.

LARA ANITA, Kota Tanjungpinang

Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi salah satu pantai yang berada di Kelurahan Dompak, Kecamatan Bukit Bestari. Yap! Pantai Tanjungsiambang. Pantai ini terbilang perawan, karena belum banyak dikenal orang. Tapi, memiliki keindahan alam yang mempesona.

Dimana lokasi Pantai Tanjungsiambang? Itu menjadi pertanyaan wajib beberapa teman yang kemudian menanyakan gambar pantai yang pernah terpampang di display picture Blackberry Massanger (BBM, red) saya.

Lokasi pantai ini tidak jauh dari Pusat Pemerintahan Provinsi Kepri. Bagi pengunjung yang belum pernah datang, akan menemui sedikit kesulitan karena ketiadaan penunjuk jalan. Untuk menyiasatinya, bisa bertanya langsung kepada warga setempat. Perjalanan untuk sampai ke pantai ini juga memakan waktu relatif lama, yaitu sekitar 30 menit jika menggunakan sepeda motor. Itu pun tergantung dari mana pengunjung memulai perjalanannya, dan menggunakan kendaraan apa.

Dulunya, Dompak tidak dapat dijangkau dengan mudah karena merupakan satu pulau terpisah. Sampan dan juga pompong (perahu bermesin) merupakan satu-satunya alat transportasi yang digunakan untuk mencapai Dompak. Tapi semenjak Pusat Pemerintahan Provinsi Kepri berada di Dompak, berbagai akses dibangun untuk mempermudah jangkauan, seperti jembatan dan jalan raya. 

Meskipun memakan waktu yang tidak sebentar, penat yang didapat dari jauhnya perjalanan akan terbayar dengan keindahan yang disuguhkan Pantai Tanjungsiambang. Sangat disarankan berkunjung pada sore hari, karena cuaca pantai akan semakin bersahabat di kala senja. Pun menjelang senja, hembusan angin terasa menyenangkan. 

Pantai Tanjungsiambang memiliki garis pantai yang panjang, dengan pasir putih yang lembut ketika menyapa kulit. Perairan yang dangkal dan jernih dengan ombak yang tenang menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak kecil. Mereka bermain di tepian sembari tertawa riang. Bahagia sekali.

Keindahan pantai ini tidak hanya dapat dinikmati dari tepi pantai. Tapi, bisa juga melalui dermaga yang menjorok ke laut. Uniknya, dermaga ini cukup panjang, karena menyesuaikan dengan kondisi pantai yang landai. Menanti matahari tenggelam sembari duduk di tepian dermaga, ditemani sejuk semilir angin senja juga menjadi pilihan yang tidak bisa ditampik. Gugusan pulau yang tampak sejauh mata memandang, kian menambah eksotisme pantai ini.

Pantai Tanjungsiambang berhasil membikin betah. Itu karena suasana yang damai, juga keindahan yang seperti tidak ada habisnya.***

         

      

Kamis, 03 Maret 2016

Pudarnya Pesona Objek Wisata Kota Rebah





Situs Istana Kota Rebah sempat menjadi objek wisata populer di Kota Tanjungpinang. Tapi seiring waktu, kejayaan tersebut  memudar karena tidak terpeliharanya kekayaan sejarah yang ada.

LARA ANITA, Kota Tanjungpinang

Kota Tanjungpinang yang berada di Selatan Pulau Bintan merupakan kota yang sarat sejarah, budaya dan adat istiadat Melayu. Wajar jika kemudian banyak ditemukan jejak peninggalan Melayu, salah satunya Istana Kota Rebah.

Situs Istana Kota Rebah berada tidak jauh dari Jembatan Engku Putri di Jalan Daeng Celak Tanjungpinang . Letaknya persis berada di pinggiran Sungai Carang. Situs tersebut bisa dijangkau dengan mudah melalui jalan setapak yang baru dibuka, yang jaraknya sekitar 50 meter dari Jembatan Engku Putri. Cukup mengikuti alur jalan tersebut, kita akan tiba di pintu masuknya.

Merujuk berbagai sumber, sejarah mencatat situs ini sebagai Istana Kota Lama atau Kota Raja. Di sanalah tapak awal kekuasaan Kesultanan Melayu Riau-Johor-Pahang-Lingga ditabalkan, sebelum akhirnya berpindah tempat sesuai dinamika sosial-politik pada masa itu. Istana ini dibangun pada tahun 1673-1805 yang menjadi hulu sungai Riau atau sekarang disebut Sungai Carang.

Sebutan Istana Kota Rebah sendiri merupakan penamaan yang diberikan oleh masyarakat sekitar kawasan situs. Itu didasarkan pada penampakan bangunan tersebut di masa kini, yaitu hanya sebagian kecil bangunan saja yang terlihat, yaitu pondasi dan sebagian kecil tembok, dimana struktur bangunan tersebut sebagian besar rebah ke tanah.

Atas prakarsa Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungpinang, sekira tahun 2010, tidak jauh dari lokasi bangunan, atau tepatnya di kawasan pesisir yang dikelilingi oleh rimbunnya hutan bakau, dibangun pelantar-pelantar kayu memanjang, memotong dan mengelilingi hutan bakau tersebut. Jadilah kawasan tersebut menjadi satu objek wisata , dengan tujuan sebagai satu destinasi tujuan wisata masyarakat Kota Tanjungpinang pada khususnya, dan masyarakat Kepri pada umumnya.

Di lokasi situs Istana Kota Rebah juga dibangun pondok-pondok kecil, serta rumah-rumah panggung yang bisa dimanfaatkan bagi pengunjung untuk melepas lelah. Kawasan tersebut dipercantik untuk menarik wisatawan berkunjung.



Sejak saat itu, banyak pengunjung yang mulai berdatangan untuk menikmati objek wisata tersebut, menghabiskan waktu bersama keluarga, menikmati pemandangan dan panorama dari pelantar kayu yang telah dibangun. Dari situ, nama Istana KotaRebah mulai dikenal masyarakat.

Tapi seiring waktu, kejayaan objek wisata tersebut memudar dari tahun ke tahun.  Pengunjung yang datang pun semakin mengerucut jumlahnya. Jikalaupun ada, hanya sekedar satu dua orang saja yang terlihat datang. Atau hanya sekelompok kecil pemuda-pemuda belia yang bergerombol menikmati sepoi angin di kawasan cagar budaya.

Pelantar kayu yang pernah menjadi idola juga semakin lapuk dimakan usia. Jika pengunjung menapaki lembaran-lembaran papan pelantar tersebut, maka akan terdengar bunyi papan berderik menandakan kondisinya yang lapuk. Parahnya, saat ini sebagian besar pelantar telah rusak dan roboh. Sehingga keindahan hutan bakau yang dimiliki ojek wisata tersebut tidak bisa dinikmati dengan leluasa.

Rumah-rumah panggung yang ada juga tidak terawat dengan baik. Terlihat kotor dan terbengkalai. Kawasan tersebut juga dipenuhi dengan rumput-rumput liar yang tumbuh subur menutupi beberapa bagian akses jalan setapak.



Beberapa pengunjung yang terlihat di lokasi tersebut menyayangkan keadaan tersebut. "Sayang saja tidak terawat. Padahal disini suasananya enak. Dingin," ujar Riko ditemui di lokasi tersebut. Padahal menurut dia, kalau kondisi pelantarnya masih bagus dan terjada, pengunjung bisa berjalan mengelilingi hutan bakau yang ada.

Untungnya, kondisi tersebut tidak akan bertahan lama. Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) Kota Tanjungpinang telah merencanakan melakukan pemeliharaan dan perbaikan objek wisata tersebut. Salah satu sarana pendukung, yaitu dermaga bahkan telah dibangun melalui Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatik (Dihubkominfo) Kota Tanjungpinang. Demikian juga gapura dan juga tembok pembatas telah dibangun oleh Disparbud Kota Tanjungpinang berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemrov) Kepri.

Tahun ini tidak tanggung-tanggung Disparbud Kota Tanjungpinang juga akan mengerjakan Detailed Engineering Design (DED) gardu pandang, museum mini, galeri, cafe dan home stay. Jika telah selesai, DED tersebut akan segera diajukan ke Pemrov Kepri dan juga Pemerintah Pusat untuk meminta bantuan dana pembangunan.

Pelantar kayu yang telah rusak dan roboh, menjadi tanggung jawab Dishubkominfo Kota Tanjungpinang itu, dikatakan Esram akan kembali dilanjutkan. Dimana pelantar tersebut akan menyatu dengan dermaga yang telah lebih dahulu dibangun.

"Target kami 2018 semua sudah selesai. Dan kawasan situs Istana Kota Rebah ini bisa menjad kawasan eko-wisata," ujarnya.
***

Antusias Tonton Lomba Tradisional *)Pulau Penyengat Dipadati Pengunjung


-----Just Sharing; Late Post--------------


Bukan pemandangan biasa Pulau Penyengat dipadati pengunjung. Tapi hari ini berbeda, ribuan pengunjung terlihat berbondong-bondong memasuki dermaga kedatangan di Pulau Penyengat

LARA ANITA, Tanjungpinang 

Dermaga keberangkatan menuju Pulau Penyengat di Tanjungpinang telah dipadati masyarakat sejak pukul 10.00 WIB, Minggu (21/2) kemarin. Ini merupakan pemandangan yang tak biasa, bahkan di saat libur Hari Raya Idul Fitri sekalipun.  Saking padatnya, warga harus rela mengantri bermeter-meter panjangnya, demi  memperoleh giliran menaiki pompong untuk segera menyeberang. 

Perairan Tanjungpinang - Penyengat juga terlihat sibuk, karena banyaknya pompong yang berseliweran mengantarkan penumpang pulang pergi, tiada henti.

Adalah Festival Pulau Penyengat (FPP) yang merupakan penyebab utama membludaknya jumlah pengunjung ke PulauPenyengat. Bukan tanpa alasan yang kuat, orang-orang  berdatangan ke Pulau Penyengat adalah untuk menyaksikan FPP lantaran banyaknya jenis kegiatan yang diperlombakan. Berhubung hari ini (kemarin, red) adalah hari Minggu, didukung cuaca yang sangat mendukung, tidak panas dan tidak hujan. Maka jadilah waktu yang tepat untuk berwisata bersama keluarga.

Festival Pulau Penyengat merupakan iven perdana, yang memperoleh dukungan dari Kementerian Pariwisata dan diprakarsai oleh Pemerintah Kota Tanjung Pinang. 
Festival yang menyuguhkan 20 jenis kegiatan bercirikan melayu ini dilaksanakan selama lima hari, tepatnya tanggal 20-24 Februari 2016.  Beberapa perlombaan tradisional yang diadakan, seperti sampan layar, gurindam 12, jong, layang-layang, pukul bantal, gasing, ngambat itik, renang tradisional, dan kuliner melayu.
Pengunjung terlihat antusias menyaksikan perlombaan-perlombaan yang digelar, seperti pada perlombaan ngambat itik dan pukul bantal. Pada perlombaan ngambat itik, sejumlah itik akan dilepas di perairan, selanjutnya para peserta akan berlomba-lomba mengejar itik tersebut untuk ditangkap. Sangat lucu, karena peserta kesulitan ketika mengejar itik yang berlarian kesana kemari di permukaan laut. Karena kepayahan berlari dalam air, tidak sedikit peserta yang mengejar itik dengan cara berenang.
Bagaimana dengan perlombaan pukul bantal? Sesuai namanya, perlombaan ini menggunakan bantal guling sebagai senjatanya. Dua peserta terlebih dahulu duduk berhadapan di atas kayu pinang yang telah dibentuk serupa gawang. Baru setelah aba-aba diberikan, keduanya boleh saling memukul. Repotnya, bantal yang digunakan menjadi sangat berat karena basah. Sehingga peserta tidak bisa memukul dengan lincah. Dalam perlombaan ini, yang jatuh pertama kali, dialah yang kalah. Tapi jangan khawatir, karena dilakukan di atas air, peserta yang jatuh tidak akan mengalami cedera apapun. 
Para penonton juga memberikan semangat kepada peserta dengan meneriakkan yel-yel penyemangat dengan kompak. Tidak puas hanya menonton di pelantar, beberapa pengunjung akhirnya ikut masuk ke dalam air, menonton dari dekat sembari bermain air. 
Perlombaan lain juga tidak kalah serunya. Beberapa penonton mengaku senang dengan banyaknya kegiatan yang diadakan. Mereka mengaku bingung harus menentukan mana perlombaan yang akan ditonton terlebih dahulu. "Semua perlombaannya unik. Maunya nonton semua, tapi karena diadakan bersamaan, kami tidak bisa menonton semuanya dari awal," ujar Suryanto, warga Kijang Kabupaten Bintan yang datang bersama dua orang temannya.
Kamu pecinta sejarah? Dalam Festival Pulau Penyengat ini juga telah diagendakan kegiatan Seminar Gurindam 12 yang dilaksanakan Senin (22/2) mulai pukul 09.00 WIB di Balai Adat Pulau Penyengat. Dalam seminar ini, budayawan terkemuka di bumi melayu, Rida K Liamsi didapuk menjadi keynot speaker.  Dan akan menyampaikan makalah dengan judul Gurindam XII Karya yang Melintasi Zaman. 
Selain Rida K Liamsi,  juga akan diundang pembicara dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.  Sedangkan dari daerah  (Kepri, red) narasumber yang akan  diundang adalah Syamsul Bahrum (tokoh masyarakat), Abdul Malik (akademisi dari UMRAH Tanjungpinang), Raja Malik Hafrizal (Budayawan Pulau Penyengat), Raja Abdurrahman (Budayawan Pulau Penyengat),  dan Juramadi Esram, (Kadisparbud Kota Tanjungpinang).
Selain itu, juga akan digelar klinik sastra pada Selasa (23/2) dimulai pukul 09.00 WIB di Balai Adat.

lomba Sampan Jong

lomba pukul bantal


 ***

Jumat, 19 Februari 2016

Ayo Ramai-Ramai ke Pulau Penyengat


Besok, atau tepatnya Sabtu (20/2), bisa dipastikan pulau yang tepat berada di seberang Tepilaut Tanjungpinang ini akan ramai dikunjungi. Ada apa? Rupanya akan digelar helatan akbar yang ditaja demi menduniakan pulau yang digunakan sebagai mas kawin yang diberikan oleh Sultan Mahmud Marhum Besar, Sultan Riau periode 1761—1812 M, kepada Engku Putri Raja Hamidah, putri dari Raja Haji Fisabilillah.


***
Pemerintah Kota Tanjungpinang, utamanya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Tanjungpinang sebulan terakhir ini tampak sibuk. Ternyata benar, akan digelar kenduri besar di satu pulau sejuta sejarah, yaitu Pulau Penyengat.

Adalah Festival Pulau Penyengat (FPP) yang dijadwalkan digelar selama lima hari di pulau Indera Sakti yang berada tepat di muka Tanjungpinang itu, dimulai 20-24 Februari 2016. Itu berarti besok (hari ini, read) adalah hari pembukaan. 

Sejak jauh hari, gaung-gaung pelaksanaan telah dibunyikan melalui corong-corong media. Baik media lokal, nasional bahkan konon telah dikabarkan kepada negara jiran. Upaya itu sepertinya membuahkan hasil. Sebab, lebih dari 1350 peserta akan mengikuti 20 perlombaan yang digelar dalam FPP.

Karena publikasi yang intens, enam negara jiran, yaitu Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, Filipina dan Brunei Darussalam, turut mengirimkan peserta untuk meramaikan FPP. Dan tentu saja berharap memboyong predikat juara. 

Yang menarik, hampir semua jenis kegiatan yang diperlombakan merupakan perlombaan tradisional bercita rasa melayu. Lomba jong, lomba sampan layar, lomba layang-layang, lomba kuliner melayu, lomba ngambat itik, lomba pukul bantal, lomba renang tradisional, lomba gasing, lomba sampan dayung, lomba pidato sadar wisata wisata, lomba melukis, lomba cerdas cermat pantun, lomba penyajian sejarah, lomba gurindam, klinik sastra, lomba fashion show busana melayu, lomba membaca puisi, lomba fotografi, lomba pompong hias dan lomba becak hias, akan menjadi tontonan warga Tanjungpinang lima hari ke depan.

Ada alasan tersendiri kenapa Pulau Penyengat menjadi lokasi terpilih. Pertama, Pulau Penyengat termasuk destinasi pariwisata unggulan daerah Kota Tanjungpinang. Selain itu, Pulau Penyengat sangat melegenda dan dikenal dengan sebutan Pulau Penyengat Indera Sakti atau pulau mas kawin. Kemudian, Pulau Penyengat juga pernah menjadi pusat kerajaan melayu Riau-Lingga. Juga, terdapat dua makam pahlawan nasional, yaitu Raja Haji Fisabilillah yang merupakan pahlawan nasional di bidang bahari dan cucunya Raja Ali Haji yang merupakan pahlawan nasional di bidang bahasa, sekaligus penulis kitab pengetahuan bahasa. Nah kitab tersebut yang selanjutnya dijadikan dasar bahasa Indonesia. Menarik bukan?!

Banyaknya agenda perlombaan itu, membuat saya tak akan betah berlama-lama berada di nyamannya kasur kamar. Mumpung besok hari Sabtu, saatnya (me) libur (kan diri), dan mengisi cakrawala diri dengan hal baru. Mana tahu besok cerita yang kemudian bisa dibagikan dalam bentuk tulisan. Siapa tahu. ***

Rabu, 11 November 2015

Berbelanja Sayur Murah, Dapat Bonus Senyum Ramah


Berbelanja ke pasar tradisional adalah salah satu yang ku gemari. Ritual belanja kali ini istimewa, karena selain harga sayur mayur yang sangat murah, sepanjang perjalanan aku disuguhi keramahan warga Jogja.

-----------

Sudah tiga hari ini perutku diisi oleh makanan berkalori tinggi. Aku, tentu saja penyuka kuliner seperti orang kebanyakan, tapi ibuku selalu berpesan untuk menghindari makanan berlemak yang memiliki kolesterol jahat. Karena itu aku sangat membatasi asupan yang akan diterima oleh lambungku. 

Asrama Putri Riau Yogyakarta yang berlokasi ditengah-tengah restauran dan tempat makan, sangat berpotensi membuatku menyantap makanan berkalori tinggi. Tempat makan Bungong Jeumpa misalnya. Sebelumnya restoran ini tidak berada tepat di sebelah kanan bangunan asrama. Melainkan di pertigaan menuju Jalan Magelang. Tapi sekarang sudah berdiri dengan anggunnnya berjajar di sebelah asrama, hanya dibatasi pagar tembok setinggi sekitar dua meter. 

Nikmat mana yang kau dustakan? Jika lapar, langsung saja melenggang menuju restoran makanan Aceh tersebut. Selain dekat, harganya cukup murah dibanding tempat makan lain yang berdekatan dengan asrama. Masakan Aceh terkenal dengan kari, gulai dan berbahan lemak lainnya. Bah!! Sudah dua kali aku menyantapnya. Dan rasanya kok merasa berdosa ya?? Belum lagi sebelumnya juga makan sate Padang. Duh.

Jadilah hari ini dengan berbekal tekad dan semangat yang kuat, ku langkahkan kakiku menuju pasar yang tak jauh dari asrama, Yap! Pasar Kranggan. Pasar Kranggan ini justru tidak tepat berada di Jalan Kranggan, melainkan di Jalan Poncowinatan, dekat sekali dengan Tugu Pal atau yang dikenal dengan Tugu Jogja. 

Aku sudah bangun pukul 05.00 WIB. Bagi kamu yang sama sekali belum pernah bertandang ke Yogyakarta mungkin akan kaget. Bagaimana tidak, pukul 05.00 WIB di Jogja itu hampir setara dengan pukul 6.30 WIB di Tanjungpinang, atau mungkin daerah lain di Sumatera. Terang Benderang alias matahari sudah bersinar dengan garangnya. Disini waktu subuh sekitar pukul 04.20 WIB. 

Pukul 06.00 WIB aku segera bergegas menuju Pasar Kranggan. Jarak yang tidak terlalu jauh, sekitar 1 kilometer membuatku lebih memilih untuk berjalan kaki. Mengendarai motor hanya membuatku kehilangan momen yang tidak bakal kutemui di Tanjungpinang. Apalagi kalau bukan keramahtamahan warga Jogja.

Sepanjang jalan, hampir semua yang berpapasan denganku menyunggingkan senyum manis seraya menyapaku dengan sebutan 'Mbak'. Meskipun orang tersebut berumur jauh di atasmu, ia tidak akan segan menyapa. Bapak yang sedang membersihkan daun-daun kering di jalan, ibu-ibu yang sedang berolahraga, bahkan mbah-mbah yang juga sedang menuju pasar. Duh, aku sedikit gerogi. Tapi lama-lama aku menikmati ritual memberi senyum dan menyapa itu. 

Bagi kamu yang baru datang, jangan segan memberikan senyum dan sapaan hangat bagi orang yang kebetulan kamu temui di jalan ya. Tapi lihat-lihat sikon juga. Kalau di Mall, ini biasanya tidak berlaku. Kamu mau senyumin orang-orang satu Mall? Kalau mau, silahkan sih. Hehe.

Aku memilih jalan pintas, dari asrama di Jalan Monginsidi menuju pertigaan di depan SMK 3 Jetis. Dari situ mengikuti jalan sempit menuju Jalan Pakuningratan, lantas berbelok ke kiri menuju Jalan AM. Sangaji dan masuk ke Jalan Poncowinatan.

Sejak di Jalan AM Sangaji tepat di seberang Pop Hotel, aku sudah disuguhi dengan pemandangan penjaja sayur mayur dan kebutuhan pokok lainnya, yang kebanyakan membentangkan dagangan di trotoar jalan. Masuk ke Jalan Pincowinatan, lebih banyak lagi pedagang yang ku temui. Mungkin ratusan pedagang tumpah di sepanjang Jalan Poncowinatan. Aku memilih berbelanja di pasar tumpah, tidak masuk ke Pasar Kranggan. Karena sayuran yang dijajakan di pinggiran Jalan Poncowinatan tersebut sudah lebih dari cukup untuk kebutuhanku.

Saat ku lihat, sepertinya Pasar Kranggan yang menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat tersebut tengah direnovasi. Dimana para pedagang? Ku perhatikan sekitar. Ternyata para pedagang tidak dipindahkan ke lokasi yang jauh, melainkan masih di Jalan Poncowinatan. Para pedagang yang sebelumnya menjajakan dagangannya di pasar tersebut menjajakan dagangannya satu meter dari Pasar yang tengah direnovasi. Di tempat sederhana berdinding kayu dan bertatap terpal. Mungkin itu upaya dari Pemerintah setempat supaya warganya tetap dapat mengais rezeki, sembari pasar diperbaiki.

Aku membeli garam halus ukuran kecil seharga Rp2000, gula putih Rp6000 per setengah kilogram, kemudian tahu sebanyak 8 potong ukuran sedang dengan harga Rp2000, tauge satu plastik ukuran 1 kg seharga Rp3000 dan terakhir kangkung satu ikat Rp1500. Aku cukup membayar Rp14.500 untuk membayar itu. Murah sekali! 

Menu sayuran rebus menjadi pilihanku hari ini.

Bisa dibilang aku menyukai sayur-sayuran rebus. Disamping sangat sehat, cara memasaknya pun sangat sangat mudah, hanya dengan menggunakan air, garam dan sedikit gula. Tapi bukan berarti aku tidak pernah memasak model lainnya. Tapi rebusan ini kerap menjadi menu andalan untuk menjaga pola makan supaya tetap sehat.

Ritual berbelanja rampung, dan aku segera bergegas pulang yang tentunya tetap disambut dengan senyum hangat dan sapaan ramah warga. ****

    Hasil belanjaan simpel hari ini.













Selasa, 10 November 2015

Antara Aku dan Djogja #1


Pada akhirnya, semua akan berubah seiring waktu. Kebersamaan, persahabatan.
Pada akhirnya, semua akan menjadi..... berbeda
--------

Ini hari ke empat aku berada di kota yang selalu aku rindukan, sejak dua tahun kepulanganku ke Tanjungpinang. Ya, Yogyakarta. 

Sudah jauh hari aku mengatur kepulanganku. Sekitar sebulan lalu dengan mantap, ku habiskan waktu dua Minggu untuk memadu kasih dengan kota yang selama lima tahun ini menjadi tempat ku habiskan masa-masa kenaifanku. Di kertas permohonan cuti kantorku, ku gurat tanggal 8 November 2015 menjadi titik awal masa istirahatku.

Seminggu sebelum keberangkatan, aku sempat was-was. Apa saja yang sudah berubah sepeninggalanku? Atau apakah semua akan tetap terasa sama? Dari cerita yang kudengar dari teman-teman, Jogja sudah tidak seramah dulu. Benarkah? Ya, kata temanku. "Jogja sudah semakin padat, kendaraan semakin banyak, lalu lintas macet, puluhan hotel dibangun, dan juga pusat perbelanjaan," ujarnya kala itu. Aku sempat berfikir, bukankah itu memang konsekuensi dari pembangunan? Jogja merupakan kotanya pelajar, setiap tahun ribuan mahasiswa baru menyerbu kota ini. bertambahnya jumlah pelajar, berbanding lurus dengan jumlah kendaraan yang masuk. Wajar saja menurutku.

Tapi bukan itu yang menggelisahkanku. Kepulanganku kali pertama ini, menandakan aku sendirian. Bukan sendiri dalam artian sebenarnya. Tapi, teman-teman sejawat yang juga sudah pulang ke daerah masing-masing. 
--------------
8 November 2015

Aku merapal doa sesaat sebelum pesawat membawaku pulang ke kota penuh kerinduan ini. Sekitar pukul 18.30 WIB aku tiba di Bandara Internasional Adi Sutjipto, Yogyakarta. 


Aku pulang....


Dengan diantar kenalan teman seperjalanan, aku menuju tempat tinggal yang sudah kudiami dua tahun lalu. Asrama Putri Riau Yogyakarta. Bangunan lantai dua, berwarna kuning dan bercorak melayu ini adalah rumah kedua ku. Rumah yang memberiku sahabat dan keluarga baru.

Dari luar tidak ada yang berbeda, kecuali halaman yang semakin rapi dan banyak ditanami bunga. Aku lantas menapaki teras untuk menggapai bel yang terdapat di kanan pintu. Ku tekan satu kali, belum ada jawaban. Ku tekan dua kali, akhirnya dua orang yang pastinya warga asrama menuju ke arah pintu, dua wajah asing yang tak ku kenali. "Ah, ini pasti adik-adik baru," aku berujar dalam hati. 

Aku memperkenalkan diri dan meminta diantarkan ke kamar salah satu kamar kakak angkatan mereka, Sri Rezeki.  Tinggal beberapa saja angkatan lama yang tersisa. Selebihnya sudah barang tentu adik-adik angkatan tahun 2013 ke atas.

Tidak ada Zahara, Syarifah Khairani, Rianti, Dewi, Dwi Eka Wati, teman-teman seangkatanku di asrama ini dan yang lainnya.

Aku baru sadar, kenangan memang telah tertinggal jauh ke belakang. Waktu membawa kita menuju tempat yang berbeda, serta orang-orang yang berbeda pula. Kendati di setiap sudut bangunan ini menceritakan perjalanan hidupku, tapi di dalamnya telah ditempati orang-orang baru yang siap mengisi dengan kenangan lainnya. 

Mungkin memang begitulah hidup. Setiap orang akan datang lantas pergi. Kita hanya perlu membuka diri untuk menerima orang baru yang akan menoreh cerita yang juga baru. Beradaptasi memang tidak mudah, tapi bukan berarti itu tidak mungkin. 

Waktu membawa mereka pergi, tapi waktu juga akan membawa mereka yang baru, untuk kembali. ******




Sabtu, 12 September 2015

Mister Tukul Jalan-Jalan di Tanjungpinang


Siang (12/9) tadi adalah kali pertama aku bertemu artis kondang satu ini. Tukul Arwana, ternyata tidak hanya lucu sebatas di layar kaca. Di belakang layar sikapnya tak jauh berbeda.

Tanjungpinang

Siang itu, Blackberry ku bergetar. Kulirik, lantas kulihat. Ternyata ada satu pesan masuk. Si pengirim pesan, Kepala Dinas Pariwisata Kota Tanjungpinang, Juramadi Esram. Pesan yang terkirim pukul 10.50 WIB tersebut berisikan undangan makan siang untuk rekan media di salah satu restoran makanan laut, yaitu Sei Enam pukul 12.45 WIB. Aku cukup bersemangat. Bukan karena undangan makannya, melainkan Tukul Arwana, artis yang namanya kian melejit lewat program salah satu satu televisi swasta Bukan Empat Mata, juga hadir. Aku sebenarnya bukan penggemar fanatik para figur di televisi. Cuma terkadang, ada rasa penasaran seperti apa dia di belakang layar kaca. Masih tetap selucu itukah?

Untuk menjawab rasa penasaran, aku pun datang ke restoran yang dijanjikan. Memang tidak tepat waktu, alias ngaret. Tapi untunglah menu seafood di salah satu meja belum tandas dilahap teman-teman seprofesi (lho? Hehe). Sembari menuju meja yang kursinya masih kosong, aku mencari-cari dimana sosok Tukul si pembawa acara Famili 100 ini. Toleh kanan, toleh kiri. Nah itu dia, tengah melahap siput gonggong nya. Oh itu rupanya, fikirku. 

Setelah makan...

Entah karena bawaan, atau karena artis yang sudah terbiasa berada di depan banyak orang. Tukul mampu mencairkan suasana. Itu juga terjadi ketika ia menyampaikan, istilahnya sambutan di depan undangan yang hadir. Gelak tawa terus saja mengudara karena kelucuannya. Memang tidak ada yang berbeda. Tetap saja lucu seperti yang ku lihat di TV. 

Tiba-tiba aku ingin foto bareng... Dan eng ing eng. Setelah wawancara aku langsung saja sibuk minta foto bareng. Hahaha. Aku geli membayangkan. Mendadak ngidam pengen foto bareng. Eh eh, ternyata teman-teman wartawan lainnya juga pada heboh minta foto bareng. Buat kenang-kenangan, ujar beberapa di antaranya. 

Nyaris lupa. Oke ini ku jelasin sedikit yah, ada kepentingan apa nih Mas Tukul Arwana ke Tanjungpinang. 

Mas Tukul datang bersama kru Trans 7. Kedatangannya kali ke empat ini ke Kota Tanjungpinang adalah untuk syuting program Mister Tukul Jalan-Jalan yang tayang setiap Sabtu dan Minggu pukul 22.30 WIB. Dimana lokasi tepatnya syuting Mister Tukul Jalan-Jalan? Ada dua lokasi, lokasi pertama Pulau Penyengat dan lokasi kedua adalah Pulau Basing. 

Pulau Penyengat memang tidak asing di telinga. Karena gaungnya saja sudah terdengar hingga ke mancanegara. Tentu saja, karena Pulau Penyengat kaya akan sejarah penting kerajaan Melayu hingga peninggalannya yang melimpah ruah. Pemerintah Kota Tanjungpinang dan juga Pemrov Kepri, saat ini tengah mengupayakan pulau yang hanya berjarak sekitar 2 km dari pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang ini, masuk menjadi warisan budaya dunia. 

Lantas bagaimana dengan Pulau Basing? Aku yakin, banyak dari penduduk Tanjungpinang yang sama sekali tidak mengetahuinya. Lebih simpelnya, Pulau Basing ini terletak tepat berhadapan dengan pantai Tanjungsiambang. Tak tau juga Tanjungsiambang. Alamak oi. Pantai Tanjungsiambang itu berada di Dompak Laut. Pergi saja ke arah kantor gubernur, tapi jangan betul-betul pergi ke kantor gubernurya, harus benar-benar perhatikan petunjuk. Di tepi jalan ada penjelasan kemana arah ke Tanjungsiambang. Jika dirasa sulit, coba temukan pemilik warung yang ada di pinggiran jalan, tanyakan langsung dimana Tanjungsiambang itu hehe.

Sangat dimaklumi jika Tanjungsiambang dan Pulau Basing belum tersohor namanya ke seantero negeri. Wong dua lokasi itu adalah destinasi wisata baru di Kota Tanjungpinang kok. 

Apa yang menarik dari Pulau Basing? Dari cerita yang berkembang dari masyarakat setempat. Basing berasal dari kata 'asing'. Konon katanya, pulau tersebut digunakan oleh penjajah Belanda di jaman kerajaan melayu untuk mengasingkan tahanan. 

Tapi, dari penjelasan Mbak Novyanti, yang tak lain dan tak bukan adalah Produser program Mister Tukul Jalan-Jalan, diketahui dari hasil terawang yang dilakukan Ustad Solepati pada Jumat (11/9) malam, ternyata Pulau Basing dimanfaatkan oleh Belanda sebagai tempat hiburan. Baru seetalah invasi oleh penjajah Jepang, pulau tersebut dialihfungsikan menjadi penjara.

Di pulau Basing terdapat bangunan persegi, yang ketinggiannya menurutku mencapai sekitar 4-5 meter. Luasnya? belum tau. Tapi sangat luas menurutku. Masih kira-kira. Karena saat pertama datang ke lokasi itu, bangunan itu ditutupi pohon besar dan semak belukar. Kalau sekarang bagaimana? Lah aku belum kesana lagi loh. Waktu syuting nggak diajak sih. Kan, akunya jadi sedih. Hiks.

Kapan tayangnya? Menurut informasi sih akan tayang bulan Oktober 2015 mendatang. Lama amat? Loh, kok bawel. Lah wong acaranya Trans7 kok. Terus tanggal berapa persisnya? Hehehe tanya aja sama kru Trans7 nya ya :P. Aku lupa minta kontak kru nya. Coba ntar kita tanya ke Pak Kadisparnya yah.. :D
-------------

                Eyaaaa eyaaaaa eyaaaaaa!!!! 😜😜

    Nah, ini waktu makan di resto Sei Enam 

    Nah ini aku malu-malu ....

    Pulau Basing, Tanjungpinang, Provinsi Kepri.
    Foto diambil dari facebook Kadispar Kota Tanjungpinang, Juramadi Esram.