Minggu, 09 April 2017

Bromo, Aku Jatuh Cinta

Sudah pernah ke Bromo? Bagi yang sudah pernah ke Bromo, pasti sependapat dengan saya kalau Bromo itu indah banget. Sangat wajar jika Bromo yang berada di Provinsi Jawa Timur ini menjadi tujuan destinasi banyak orang. Setelah lama bermimpi kapan bisa ke Bromo, akhirnya kesempatan itu datang. Woooaahhh bahagia sekali. Yap, awal Maret 2017 lalu saya menginjakkan kaki ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, tapi nulisnya baru sekarang. Hehe :D

Mari Kita Berangkat !!! 

Sebelum berangkat, banyak persiapan yang harus dilakukan, terutama pakaian. Maklum banget, suhu Bromo sangat dingin. Jangan lupa membawa jaket, kaos kaki, glove, syal atau apapun juga yang kamu butuhin buat menghalau rasa dingin. Kan ga asyik banget mesti sibuk menggigil saat lagi asyik-asyiknya menikmati kemolekan Bromo dan juga pemandangan sekitar.

Keberangkatan menuju Bromo, kami awali dari Yogyakarta dengan menumpang Bus Safari Darma Raya. Tepatnya hari Jumat (3/3) malam sekitar pukul 20.00 WIB kami berangkat menuju Kota Malang, dan sampai di Malang keesokan paginya sekitar pukul 08.00 WIB. Rencana awal, perjalanan akan dilanjutkan menuju Probolinggo menggunakan angkutan umum, baru kemudian dari Probolinggo diteruskan ke Bromo. Tapi setelah dipikir-pikir kok yo ribet, lama banget dan pastinya bakal menghabiskan anggaran yang juga besar. Karena itu, kami pun memutuskan menggunakan motor sewaan menuju Bromo. Dengan harga sewa Rp60-70 ribu, kamu sudah bisa motoran sepuasnya selama 24 jam. Hm hm, pilihan yang menarik nih. Menuju Bromo dari Kota Malang menggunakan kendaraan bermotor hanya berjarak sekitar 59 km. Nah, waktu dan biaya bisa dipangkas banget kan. Hemat dan efisien dong. Selain itu, kamu juga bisa menikmati pemandangan yang nggak bakal ngecewain deh di sepanjang perjalanan menuju Bromo. Kamu tidak perlu khawatir tersesat hingga sampai ke Bromo, tinggal memanfaatkan google map ataupun GPS (Gangguin Penduduk Sekitar hehe) kamu bisa sampai ke Bromo. Tapi, perlu diingat ya, jangan berangkat ke Bromo saat sore hari atau mendekati gelap, karena kondisi jalan akan sangat gelap, dan takutnya kamu malah tersesat karena tidak ada penunjuk jalan apapun.


Kamu bisa menikmati pemandangan ini sebelum sampai ke Bromo/ dokumentasi pribadi

Di tengah perjalanan, kamu bisa menyempatkan berfoto, ataupun sekedar menikmati keindahan alam yang sangat memanjakan mata.  




Dokumentasi pribadi




Bromo, Kami Sudah Tiba!!!

Setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kami tiba di Bromo. Yeaaaayyyyyyy!!! Saya menyeka keringat yang bercucuran, dan menghela nafas lega (:p). Oke itu lebay hehe 

Dokumentasi pribadi

Karena sudah lelah, kami memutuskan mencari penginapan atau home stay milik penduduk sekitar. Tidak sulit mencari penginapan di kawasan Bromo, karena penduduk sekitar rata-rata telah menyulap kediamannya menjadi penginapan. Bagi yang ingin  menginap di hotel,  juga ada kok. Jadi tidak perlu bingung akan bermalam dimana. Saat itu, kami memperoleh home stay dengan harga Rp250 ribu per malam/kamar, dengan fasilitas air panas. Air panas ini super duper penting ya, karena dipastikan kamu bakal menggigil sepanjang waktu disana. Dingiiiiinnn bangettt, apalagi saat malam menjelang... Jadi, kamu kudu nanya, apakah tersedia air panas atau tidak. Mau tau suhu di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru? Suhu udara rata-rata berkisar antara 5°C - 22°C. Suhu terendah terjadi pada saat dini hari di puncak musim kemarau antara 3°C - 5°C bahkan di beberapa tempat sering bersuhu di bawah O°C (minus). Sedangkan suhu maksimum berkisar antara 20°C - 22°C.

Perjalanan Dilanjutkan...

Setelah tiba di home stay, sengaja kami memulihkan tenaga untuk keesokan hari. Perjalanan mengeksplore kawasan Bromo baru kami lanjutkan keesokan harinya. Pagi-pagi sekali setelah salat Subuh, kami bergegas. Tujuan utama kami adalah Penanjakan, yang merupakan spot foto sejuta umat hehe. Dari sini akan terlihat jelas keindahan Gunung Bromo dan juga Gunung Batok serta pemandangan lainnya secara menyeluruh. Awalnya, kami berencana berangkat sekitar pukul 04.00 WIB supaya tidak ketinggalan menyaksikan "The Famous Sunrise" dan juga mencari posisi enak. Tapi, hal itu kami urungkan karena khawatir tidak menemukan musala di tempat kejadian perkara :p. Maklum, penduduk setempat mayoritas beragama Hindu. Dan benar saja, ketika telah tiba di Penanjakan 1, ribuan pengunjung yang tidak hanya terdiri dari wisatawan domestik tapi juga wisatawan asing telah menyemut di bibir pagar. Karena itu, usahakan bertandang ke Bromo bukan saat weekend dan masa liburan yaa.. Bagi yang tidak ingin ketinggalan momen ini, memang tidak boleh datang terlambat jika tidak ingin menyesal. Setelah ‘The Famous Sunrise’ meninggi, kamu juga bisa menyaksikan ‘The Sea of Sand’ disekitar gugusan gunung Bromo dan gunung-gunung yang ada disekitarnya seperti Gunung Batok, Gunung Semeru dan lain-lain.

Meskipun ribuan orang menyesaki Bukit Penanjakan, rasa takjub tetap membuncah dalam dada. Ah, indahnya pemandangan ini. Ya, aku jatuh cinta pada ciptaan Allah yang ada di depan mata ini. Saya kagum, dan semua orang juga begitu. Setiap pengunjung mencari spot foto terbaik untuk mengabadikan momen indah itu, tentu saya juga tidak mau ketinggalan dong :D

Rame banget/ dokumentasi pribadi

Tips:

Jika kamu tidak ingin ketinggalan menyaksikan "The Famous Sunrise", dan tidak mengenal medan dengan baik. Sebaiknya kamu menyewa pemandu jalan. Pemandu dengan mudah dijumpai di perumahan penduduk. Biasanya pemuda-pemuda ataupun warga setempat akan menawarkan diri untuk menjadi pemandu dan penunjuk jalan menuju lokasi-lokasi yang kamu tuju. Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk pemandu? Hanya Rp100 ribu rupiah saja. Mereka akan mengantarkan kamu ke lokasi-lokasi dan spot-spot foto terbaik sesuai keinginan kamu. Pemandu juga akan dengan senang hati menjadi fotografer kamu dan juga teman-teman kamu disana.

Adanya pemandu juga penting, karena mereka mengenali medan dengan sangat baik. Seperti misalnya, jalan menuju Penanjakan sangat terjal. Mencapai bukit Penanjakan bukan perkara mudah, membutuhkan perjuangan dan keberanian, karena biasanya untuk mencapai tempat ini dilakukan pada dini hari dengan jalan yang terjal dan harus melewati lautan pasir bromo yang luas khususnya yang melalui jalur pintu masuk melalui Probolinggo, Malang (Tumpang) dan Lumajang, sedangkan akses jalan ke Bromo dari Pasuruan relatif lebih mudah.

Oh iya, "The Famaous Sunrise" yang paling indah akan kamu dapatkan di saat musim kemarau ya. Kami tidak memperoleh foto sunrise yang ciamik, karena datang bertepatan dengan musim hujan. Sedih hiks :(


View dari Bukit Penanjakan




Foto ini diambil dari Bukit Cinta, kata mas pemandunya sih itu namanya hehe
Hanya beberapa tempat saja yang kami kunjungi, karena masih ada lokasi lain di Jawa Timur yang ingin kami datangi. Mungkin lain waktu jika ada kesempatan, saya akan datang lagi ke tempat ini. Sayonara Bromo!!! Ketjup :*








Selasa, 06 September 2016

Di Tanah Solo, Aku Berlabuh

Sudah hampir satu bulan aku berlabuh di tanah Solo ini, berbekal asa menggapai mimpi. Mimpi untuk hidup lebih baik, mimpi untuk membahagiakan ibuku, dan orang-orang terkasih.

Nyaris tiga tahun aku meninggalkan bangku pendidikan, dan sempat terbesit untuk mengubur harapan mengenyam pendidikan lebih tinggi. Tapi, Allah Maha Baik, Dia mengabulkan inginku. Akhirnya aku berada disini. Solo menjadi pilihanku meneruskan mimpi.

Ada harga yang harus kubayar untuk itu, untuk iming-iming kebahagiaan yang ingin kuraih. Tapi tak apa, setiap pilihan selalu memiliki konsekuensi. Bak dua sisi mata uang yang selalu berdampingan, ada sisi baik dan ada pula sisi buruknya. Siapapun pasti mengalami sulitnya berada di dunia yang baru.

Namun, segala konsekuensi tersebut, meskipun seburuk apapun akan terasa menyenangkan jika diterima dengan prasangka yang baik. Berfikir positif akan menjadi penghibur sejati. Dan waktu akan segera mengganti segalanya menjadi lebih baik. :) 

Minggu, 06 Maret 2016

Menjejaki Keindahan Pantai Tanjungsiambang

          


Siapa bilang Tanjungpinang tidak memiliki pantai yang indah menawan? Cobalah kunjungi Pantai Tanjungsiambang. Sihir senjanya membikin syahdu, pasir putihnya membikin rindu.

LARA ANITA, Kota Tanjungpinang

Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi salah satu pantai yang berada di Kelurahan Dompak, Kecamatan Bukit Bestari. Yap! Pantai Tanjungsiambang. Pantai ini terbilang perawan, karena belum banyak dikenal orang. Tapi, memiliki keindahan alam yang mempesona.

Dimana lokasi Pantai Tanjungsiambang? Itu menjadi pertanyaan wajib beberapa teman yang kemudian menanyakan gambar pantai yang pernah terpampang di display picture Blackberry Massanger (BBM, red) saya.

Lokasi pantai ini tidak jauh dari Pusat Pemerintahan Provinsi Kepri. Bagi pengunjung yang belum pernah datang, akan menemui sedikit kesulitan karena ketiadaan penunjuk jalan. Untuk menyiasatinya, bisa bertanya langsung kepada warga setempat. Perjalanan untuk sampai ke pantai ini juga memakan waktu relatif lama, yaitu sekitar 30 menit jika menggunakan sepeda motor. Itu pun tergantung dari mana pengunjung memulai perjalanannya, dan menggunakan kendaraan apa.

Dulunya, Dompak tidak dapat dijangkau dengan mudah karena merupakan satu pulau terpisah. Sampan dan juga pompong (perahu bermesin) merupakan satu-satunya alat transportasi yang digunakan untuk mencapai Dompak. Tapi semenjak Pusat Pemerintahan Provinsi Kepri berada di Dompak, berbagai akses dibangun untuk mempermudah jangkauan, seperti jembatan dan jalan raya. 

Meskipun memakan waktu yang tidak sebentar, penat yang didapat dari jauhnya perjalanan akan terbayar dengan keindahan yang disuguhkan Pantai Tanjungsiambang. Sangat disarankan berkunjung pada sore hari, karena cuaca pantai akan semakin bersahabat di kala senja. Pun menjelang senja, hembusan angin terasa menyenangkan. 

Pantai Tanjungsiambang memiliki garis pantai yang panjang, dengan pasir putih yang lembut ketika menyapa kulit. Perairan yang dangkal dan jernih dengan ombak yang tenang menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak kecil. Mereka bermain di tepian sembari tertawa riang. Bahagia sekali.

Keindahan pantai ini tidak hanya dapat dinikmati dari tepi pantai. Tapi, bisa juga melalui dermaga yang menjorok ke laut. Uniknya, dermaga ini cukup panjang, karena menyesuaikan dengan kondisi pantai yang landai. Menanti matahari tenggelam sembari duduk di tepian dermaga, ditemani sejuk semilir angin senja juga menjadi pilihan yang tidak bisa ditampik. Gugusan pulau yang tampak sejauh mata memandang, kian menambah eksotisme pantai ini.

Pantai Tanjungsiambang berhasil membikin betah. Itu karena suasana yang damai, juga keindahan yang seperti tidak ada habisnya.***

         

      

Kamis, 03 Maret 2016

Pudarnya Pesona Objek Wisata Kota Rebah





Situs Istana Kota Rebah sempat menjadi objek wisata populer di Kota Tanjungpinang. Tapi seiring waktu, kejayaan tersebut  memudar karena tidak terpeliharanya kekayaan sejarah yang ada.

LARA ANITA, Kota Tanjungpinang

Kota Tanjungpinang yang berada di Selatan Pulau Bintan merupakan kota yang sarat sejarah, budaya dan adat istiadat Melayu. Wajar jika kemudian banyak ditemukan jejak peninggalan Melayu, salah satunya Istana Kota Rebah.

Situs Istana Kota Rebah berada tidak jauh dari Jembatan Engku Putri di Jalan Daeng Celak Tanjungpinang . Letaknya persis berada di pinggiran Sungai Carang. Situs tersebut bisa dijangkau dengan mudah melalui jalan setapak yang baru dibuka, yang jaraknya sekitar 50 meter dari Jembatan Engku Putri. Cukup mengikuti alur jalan tersebut, kita akan tiba di pintu masuknya.

Merujuk berbagai sumber, sejarah mencatat situs ini sebagai Istana Kota Lama atau Kota Raja. Di sanalah tapak awal kekuasaan Kesultanan Melayu Riau-Johor-Pahang-Lingga ditabalkan, sebelum akhirnya berpindah tempat sesuai dinamika sosial-politik pada masa itu. Istana ini dibangun pada tahun 1673-1805 yang menjadi hulu sungai Riau atau sekarang disebut Sungai Carang.

Sebutan Istana Kota Rebah sendiri merupakan penamaan yang diberikan oleh masyarakat sekitar kawasan situs. Itu didasarkan pada penampakan bangunan tersebut di masa kini, yaitu hanya sebagian kecil bangunan saja yang terlihat, yaitu pondasi dan sebagian kecil tembok, dimana struktur bangunan tersebut sebagian besar rebah ke tanah.

Atas prakarsa Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungpinang, sekira tahun 2010, tidak jauh dari lokasi bangunan, atau tepatnya di kawasan pesisir yang dikelilingi oleh rimbunnya hutan bakau, dibangun pelantar-pelantar kayu memanjang, memotong dan mengelilingi hutan bakau tersebut. Jadilah kawasan tersebut menjadi satu objek wisata , dengan tujuan sebagai satu destinasi tujuan wisata masyarakat Kota Tanjungpinang pada khususnya, dan masyarakat Kepri pada umumnya.

Di lokasi situs Istana Kota Rebah juga dibangun pondok-pondok kecil, serta rumah-rumah panggung yang bisa dimanfaatkan bagi pengunjung untuk melepas lelah. Kawasan tersebut dipercantik untuk menarik wisatawan berkunjung.



Sejak saat itu, banyak pengunjung yang mulai berdatangan untuk menikmati objek wisata tersebut, menghabiskan waktu bersama keluarga, menikmati pemandangan dan panorama dari pelantar kayu yang telah dibangun. Dari situ, nama Istana KotaRebah mulai dikenal masyarakat.

Tapi seiring waktu, kejayaan objek wisata tersebut memudar dari tahun ke tahun.  Pengunjung yang datang pun semakin mengerucut jumlahnya. Jikalaupun ada, hanya sekedar satu dua orang saja yang terlihat datang. Atau hanya sekelompok kecil pemuda-pemuda belia yang bergerombol menikmati sepoi angin di kawasan cagar budaya.

Pelantar kayu yang pernah menjadi idola juga semakin lapuk dimakan usia. Jika pengunjung menapaki lembaran-lembaran papan pelantar tersebut, maka akan terdengar bunyi papan berderik menandakan kondisinya yang lapuk. Parahnya, saat ini sebagian besar pelantar telah rusak dan roboh. Sehingga keindahan hutan bakau yang dimiliki ojek wisata tersebut tidak bisa dinikmati dengan leluasa.

Rumah-rumah panggung yang ada juga tidak terawat dengan baik. Terlihat kotor dan terbengkalai. Kawasan tersebut juga dipenuhi dengan rumput-rumput liar yang tumbuh subur menutupi beberapa bagian akses jalan setapak.



Beberapa pengunjung yang terlihat di lokasi tersebut menyayangkan keadaan tersebut. "Sayang saja tidak terawat. Padahal disini suasananya enak. Dingin," ujar Riko ditemui di lokasi tersebut. Padahal menurut dia, kalau kondisi pelantarnya masih bagus dan terjada, pengunjung bisa berjalan mengelilingi hutan bakau yang ada.

Untungnya, kondisi tersebut tidak akan bertahan lama. Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) Kota Tanjungpinang telah merencanakan melakukan pemeliharaan dan perbaikan objek wisata tersebut. Salah satu sarana pendukung, yaitu dermaga bahkan telah dibangun melalui Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatik (Dihubkominfo) Kota Tanjungpinang. Demikian juga gapura dan juga tembok pembatas telah dibangun oleh Disparbud Kota Tanjungpinang berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemrov) Kepri.

Tahun ini tidak tanggung-tanggung Disparbud Kota Tanjungpinang juga akan mengerjakan Detailed Engineering Design (DED) gardu pandang, museum mini, galeri, cafe dan home stay. Jika telah selesai, DED tersebut akan segera diajukan ke Pemrov Kepri dan juga Pemerintah Pusat untuk meminta bantuan dana pembangunan.

Pelantar kayu yang telah rusak dan roboh, menjadi tanggung jawab Dishubkominfo Kota Tanjungpinang itu, dikatakan Esram akan kembali dilanjutkan. Dimana pelantar tersebut akan menyatu dengan dermaga yang telah lebih dahulu dibangun.

"Target kami 2018 semua sudah selesai. Dan kawasan situs Istana Kota Rebah ini bisa menjad kawasan eko-wisata," ujarnya.
***

Antusias Tonton Lomba Tradisional *)Pulau Penyengat Dipadati Pengunjung


-----Just Sharing; Late Post--------------


Bukan pemandangan biasa Pulau Penyengat dipadati pengunjung. Tapi hari ini berbeda, ribuan pengunjung terlihat berbondong-bondong memasuki dermaga kedatangan di Pulau Penyengat

LARA ANITA, Tanjungpinang 

Dermaga keberangkatan menuju Pulau Penyengat di Tanjungpinang telah dipadati masyarakat sejak pukul 10.00 WIB, Minggu (21/2) kemarin. Ini merupakan pemandangan yang tak biasa, bahkan di saat libur Hari Raya Idul Fitri sekalipun.  Saking padatnya, warga harus rela mengantri bermeter-meter panjangnya, demi  memperoleh giliran menaiki pompong untuk segera menyeberang. 

Perairan Tanjungpinang - Penyengat juga terlihat sibuk, karena banyaknya pompong yang berseliweran mengantarkan penumpang pulang pergi, tiada henti.

Adalah Festival Pulau Penyengat (FPP) yang merupakan penyebab utama membludaknya jumlah pengunjung ke PulauPenyengat. Bukan tanpa alasan yang kuat, orang-orang  berdatangan ke Pulau Penyengat adalah untuk menyaksikan FPP lantaran banyaknya jenis kegiatan yang diperlombakan. Berhubung hari ini (kemarin, red) adalah hari Minggu, didukung cuaca yang sangat mendukung, tidak panas dan tidak hujan. Maka jadilah waktu yang tepat untuk berwisata bersama keluarga.

Festival Pulau Penyengat merupakan iven perdana, yang memperoleh dukungan dari Kementerian Pariwisata dan diprakarsai oleh Pemerintah Kota Tanjung Pinang. 
Festival yang menyuguhkan 20 jenis kegiatan bercirikan melayu ini dilaksanakan selama lima hari, tepatnya tanggal 20-24 Februari 2016.  Beberapa perlombaan tradisional yang diadakan, seperti sampan layar, gurindam 12, jong, layang-layang, pukul bantal, gasing, ngambat itik, renang tradisional, dan kuliner melayu.
Pengunjung terlihat antusias menyaksikan perlombaan-perlombaan yang digelar, seperti pada perlombaan ngambat itik dan pukul bantal. Pada perlombaan ngambat itik, sejumlah itik akan dilepas di perairan, selanjutnya para peserta akan berlomba-lomba mengejar itik tersebut untuk ditangkap. Sangat lucu, karena peserta kesulitan ketika mengejar itik yang berlarian kesana kemari di permukaan laut. Karena kepayahan berlari dalam air, tidak sedikit peserta yang mengejar itik dengan cara berenang.
Bagaimana dengan perlombaan pukul bantal? Sesuai namanya, perlombaan ini menggunakan bantal guling sebagai senjatanya. Dua peserta terlebih dahulu duduk berhadapan di atas kayu pinang yang telah dibentuk serupa gawang. Baru setelah aba-aba diberikan, keduanya boleh saling memukul. Repotnya, bantal yang digunakan menjadi sangat berat karena basah. Sehingga peserta tidak bisa memukul dengan lincah. Dalam perlombaan ini, yang jatuh pertama kali, dialah yang kalah. Tapi jangan khawatir, karena dilakukan di atas air, peserta yang jatuh tidak akan mengalami cedera apapun. 
Para penonton juga memberikan semangat kepada peserta dengan meneriakkan yel-yel penyemangat dengan kompak. Tidak puas hanya menonton di pelantar, beberapa pengunjung akhirnya ikut masuk ke dalam air, menonton dari dekat sembari bermain air. 
Perlombaan lain juga tidak kalah serunya. Beberapa penonton mengaku senang dengan banyaknya kegiatan yang diadakan. Mereka mengaku bingung harus menentukan mana perlombaan yang akan ditonton terlebih dahulu. "Semua perlombaannya unik. Maunya nonton semua, tapi karena diadakan bersamaan, kami tidak bisa menonton semuanya dari awal," ujar Suryanto, warga Kijang Kabupaten Bintan yang datang bersama dua orang temannya.
Kamu pecinta sejarah? Dalam Festival Pulau Penyengat ini juga telah diagendakan kegiatan Seminar Gurindam 12 yang dilaksanakan Senin (22/2) mulai pukul 09.00 WIB di Balai Adat Pulau Penyengat. Dalam seminar ini, budayawan terkemuka di bumi melayu, Rida K Liamsi didapuk menjadi keynot speaker.  Dan akan menyampaikan makalah dengan judul Gurindam XII Karya yang Melintasi Zaman. 
Selain Rida K Liamsi,  juga akan diundang pembicara dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.  Sedangkan dari daerah  (Kepri, red) narasumber yang akan  diundang adalah Syamsul Bahrum (tokoh masyarakat), Abdul Malik (akademisi dari UMRAH Tanjungpinang), Raja Malik Hafrizal (Budayawan Pulau Penyengat), Raja Abdurrahman (Budayawan Pulau Penyengat),  dan Juramadi Esram, (Kadisparbud Kota Tanjungpinang).
Selain itu, juga akan digelar klinik sastra pada Selasa (23/2) dimulai pukul 09.00 WIB di Balai Adat.

lomba Sampan Jong

lomba pukul bantal


 ***

Jumat, 19 Februari 2016

Ayo Ramai-Ramai ke Pulau Penyengat


Besok, atau tepatnya Sabtu (20/2), bisa dipastikan pulau yang tepat berada di seberang Tepilaut Tanjungpinang ini akan ramai dikunjungi. Ada apa? Rupanya akan digelar helatan akbar yang ditaja demi menduniakan pulau yang digunakan sebagai mas kawin yang diberikan oleh Sultan Mahmud Marhum Besar, Sultan Riau periode 1761—1812 M, kepada Engku Putri Raja Hamidah, putri dari Raja Haji Fisabilillah.


***
Pemerintah Kota Tanjungpinang, utamanya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Tanjungpinang sebulan terakhir ini tampak sibuk. Ternyata benar, akan digelar kenduri besar di satu pulau sejuta sejarah, yaitu Pulau Penyengat.

Adalah Festival Pulau Penyengat (FPP) yang dijadwalkan digelar selama lima hari di pulau Indera Sakti yang berada tepat di muka Tanjungpinang itu, dimulai 20-24 Februari 2016. Itu berarti besok (hari ini, read) adalah hari pembukaan. 

Sejak jauh hari, gaung-gaung pelaksanaan telah dibunyikan melalui corong-corong media. Baik media lokal, nasional bahkan konon telah dikabarkan kepada negara jiran. Upaya itu sepertinya membuahkan hasil. Sebab, lebih dari 1350 peserta akan mengikuti 20 perlombaan yang digelar dalam FPP.

Karena publikasi yang intens, enam negara jiran, yaitu Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, Filipina dan Brunei Darussalam, turut mengirimkan peserta untuk meramaikan FPP. Dan tentu saja berharap memboyong predikat juara. 

Yang menarik, hampir semua jenis kegiatan yang diperlombakan merupakan perlombaan tradisional bercita rasa melayu. Lomba jong, lomba sampan layar, lomba layang-layang, lomba kuliner melayu, lomba ngambat itik, lomba pukul bantal, lomba renang tradisional, lomba gasing, lomba sampan dayung, lomba pidato sadar wisata wisata, lomba melukis, lomba cerdas cermat pantun, lomba penyajian sejarah, lomba gurindam, klinik sastra, lomba fashion show busana melayu, lomba membaca puisi, lomba fotografi, lomba pompong hias dan lomba becak hias, akan menjadi tontonan warga Tanjungpinang lima hari ke depan.

Ada alasan tersendiri kenapa Pulau Penyengat menjadi lokasi terpilih. Pertama, Pulau Penyengat termasuk destinasi pariwisata unggulan daerah Kota Tanjungpinang. Selain itu, Pulau Penyengat sangat melegenda dan dikenal dengan sebutan Pulau Penyengat Indera Sakti atau pulau mas kawin. Kemudian, Pulau Penyengat juga pernah menjadi pusat kerajaan melayu Riau-Lingga. Juga, terdapat dua makam pahlawan nasional, yaitu Raja Haji Fisabilillah yang merupakan pahlawan nasional di bidang bahari dan cucunya Raja Ali Haji yang merupakan pahlawan nasional di bidang bahasa, sekaligus penulis kitab pengetahuan bahasa. Nah kitab tersebut yang selanjutnya dijadikan dasar bahasa Indonesia. Menarik bukan?!

Banyaknya agenda perlombaan itu, membuat saya tak akan betah berlama-lama berada di nyamannya kasur kamar. Mumpung besok hari Sabtu, saatnya (me) libur (kan diri), dan mengisi cakrawala diri dengan hal baru. Mana tahu besok cerita yang kemudian bisa dibagikan dalam bentuk tulisan. Siapa tahu. ***

Rabu, 11 November 2015

Berbelanja Sayur Murah, Dapat Bonus Senyum Ramah


Berbelanja ke pasar tradisional adalah salah satu yang ku gemari. Ritual belanja kali ini istimewa, karena selain harga sayur mayur yang sangat murah, sepanjang perjalanan aku disuguhi keramahan warga Jogja.

-----------

Sudah tiga hari ini perutku diisi oleh makanan berkalori tinggi. Aku, tentu saja penyuka kuliner seperti orang kebanyakan, tapi ibuku selalu berpesan untuk menghindari makanan berlemak yang memiliki kolesterol jahat. Karena itu aku sangat membatasi asupan yang akan diterima oleh lambungku. 

Asrama Putri Riau Yogyakarta yang berlokasi ditengah-tengah restauran dan tempat makan, sangat berpotensi membuatku menyantap makanan berkalori tinggi. Tempat makan Bungong Jeumpa misalnya. Sebelumnya restoran ini tidak berada tepat di sebelah kanan bangunan asrama. Melainkan di pertigaan menuju Jalan Magelang. Tapi sekarang sudah berdiri dengan anggunnnya berjajar di sebelah asrama, hanya dibatasi pagar tembok setinggi sekitar dua meter. 

Nikmat mana yang kau dustakan? Jika lapar, langsung saja melenggang menuju restoran makanan Aceh tersebut. Selain dekat, harganya cukup murah dibanding tempat makan lain yang berdekatan dengan asrama. Masakan Aceh terkenal dengan kari, gulai dan berbahan lemak lainnya. Bah!! Sudah dua kali aku menyantapnya. Dan rasanya kok merasa berdosa ya?? Belum lagi sebelumnya juga makan sate Padang. Duh.

Jadilah hari ini dengan berbekal tekad dan semangat yang kuat, ku langkahkan kakiku menuju pasar yang tak jauh dari asrama, Yap! Pasar Kranggan. Pasar Kranggan ini justru tidak tepat berada di Jalan Kranggan, melainkan di Jalan Poncowinatan, dekat sekali dengan Tugu Pal atau yang dikenal dengan Tugu Jogja. 

Aku sudah bangun pukul 05.00 WIB. Bagi kamu yang sama sekali belum pernah bertandang ke Yogyakarta mungkin akan kaget. Bagaimana tidak, pukul 05.00 WIB di Jogja itu hampir setara dengan pukul 6.30 WIB di Tanjungpinang, atau mungkin daerah lain di Sumatera. Terang Benderang alias matahari sudah bersinar dengan garangnya. Disini waktu subuh sekitar pukul 04.20 WIB. 

Pukul 06.00 WIB aku segera bergegas menuju Pasar Kranggan. Jarak yang tidak terlalu jauh, sekitar 1 kilometer membuatku lebih memilih untuk berjalan kaki. Mengendarai motor hanya membuatku kehilangan momen yang tidak bakal kutemui di Tanjungpinang. Apalagi kalau bukan keramahtamahan warga Jogja.

Sepanjang jalan, hampir semua yang berpapasan denganku menyunggingkan senyum manis seraya menyapaku dengan sebutan 'Mbak'. Meskipun orang tersebut berumur jauh di atasmu, ia tidak akan segan menyapa. Bapak yang sedang membersihkan daun-daun kering di jalan, ibu-ibu yang sedang berolahraga, bahkan mbah-mbah yang juga sedang menuju pasar. Duh, aku sedikit gerogi. Tapi lama-lama aku menikmati ritual memberi senyum dan menyapa itu. 

Bagi kamu yang baru datang, jangan segan memberikan senyum dan sapaan hangat bagi orang yang kebetulan kamu temui di jalan ya. Tapi lihat-lihat sikon juga. Kalau di Mall, ini biasanya tidak berlaku. Kamu mau senyumin orang-orang satu Mall? Kalau mau, silahkan sih. Hehe.

Aku memilih jalan pintas, dari asrama di Jalan Monginsidi menuju pertigaan di depan SMK 3 Jetis. Dari situ mengikuti jalan sempit menuju Jalan Pakuningratan, lantas berbelok ke kiri menuju Jalan AM. Sangaji dan masuk ke Jalan Poncowinatan.

Sejak di Jalan AM Sangaji tepat di seberang Pop Hotel, aku sudah disuguhi dengan pemandangan penjaja sayur mayur dan kebutuhan pokok lainnya, yang kebanyakan membentangkan dagangan di trotoar jalan. Masuk ke Jalan Pincowinatan, lebih banyak lagi pedagang yang ku temui. Mungkin ratusan pedagang tumpah di sepanjang Jalan Poncowinatan. Aku memilih berbelanja di pasar tumpah, tidak masuk ke Pasar Kranggan. Karena sayuran yang dijajakan di pinggiran Jalan Poncowinatan tersebut sudah lebih dari cukup untuk kebutuhanku.

Saat ku lihat, sepertinya Pasar Kranggan yang menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat tersebut tengah direnovasi. Dimana para pedagang? Ku perhatikan sekitar. Ternyata para pedagang tidak dipindahkan ke lokasi yang jauh, melainkan masih di Jalan Poncowinatan. Para pedagang yang sebelumnya menjajakan dagangannya di pasar tersebut menjajakan dagangannya satu meter dari Pasar yang tengah direnovasi. Di tempat sederhana berdinding kayu dan bertatap terpal. Mungkin itu upaya dari Pemerintah setempat supaya warganya tetap dapat mengais rezeki, sembari pasar diperbaiki.

Aku membeli garam halus ukuran kecil seharga Rp2000, gula putih Rp6000 per setengah kilogram, kemudian tahu sebanyak 8 potong ukuran sedang dengan harga Rp2000, tauge satu plastik ukuran 1 kg seharga Rp3000 dan terakhir kangkung satu ikat Rp1500. Aku cukup membayar Rp14.500 untuk membayar itu. Murah sekali! 

Menu sayuran rebus menjadi pilihanku hari ini.

Bisa dibilang aku menyukai sayur-sayuran rebus. Disamping sangat sehat, cara memasaknya pun sangat sangat mudah, hanya dengan menggunakan air, garam dan sedikit gula. Tapi bukan berarti aku tidak pernah memasak model lainnya. Tapi rebusan ini kerap menjadi menu andalan untuk menjaga pola makan supaya tetap sehat.

Ritual berbelanja rampung, dan aku segera bergegas pulang yang tentunya tetap disambut dengan senyum hangat dan sapaan ramah warga. ****

    Hasil belanjaan simpel hari ini.













Selasa, 10 November 2015

Antara Aku dan Djogja #1


Pada akhirnya, semua akan berubah seiring waktu. Kebersamaan, persahabatan.
Pada akhirnya, semua akan menjadi..... berbeda
--------

Ini hari ke empat aku berada di kota yang selalu aku rindukan, sejak dua tahun kepulanganku ke Tanjungpinang. Ya, Yogyakarta. 

Sudah jauh hari aku mengatur kepulanganku. Sekitar sebulan lalu dengan mantap, ku habiskan waktu dua Minggu untuk memadu kasih dengan kota yang selama lima tahun ini menjadi tempat ku habiskan masa-masa kenaifanku. Di kertas permohonan cuti kantorku, ku gurat tanggal 8 November 2015 menjadi titik awal masa istirahatku.

Seminggu sebelum keberangkatan, aku sempat was-was. Apa saja yang sudah berubah sepeninggalanku? Atau apakah semua akan tetap terasa sama? Dari cerita yang kudengar dari teman-teman, Jogja sudah tidak seramah dulu. Benarkah? Ya, kata temanku. "Jogja sudah semakin padat, kendaraan semakin banyak, lalu lintas macet, puluhan hotel dibangun, dan juga pusat perbelanjaan," ujarnya kala itu. Aku sempat berfikir, bukankah itu memang konsekuensi dari pembangunan? Jogja merupakan kotanya pelajar, setiap tahun ribuan mahasiswa baru menyerbu kota ini. bertambahnya jumlah pelajar, berbanding lurus dengan jumlah kendaraan yang masuk. Wajar saja menurutku.

Tapi bukan itu yang menggelisahkanku. Kepulanganku kali pertama ini, menandakan aku sendirian. Bukan sendiri dalam artian sebenarnya. Tapi, teman-teman sejawat yang juga sudah pulang ke daerah masing-masing. 
--------------
8 November 2015

Aku merapal doa sesaat sebelum pesawat membawaku pulang ke kota penuh kerinduan ini. Sekitar pukul 18.30 WIB aku tiba di Bandara Internasional Adi Sutjipto, Yogyakarta. 


Aku pulang....


Dengan diantar kenalan teman seperjalanan, aku menuju tempat tinggal yang sudah kudiami dua tahun lalu. Asrama Putri Riau Yogyakarta. Bangunan lantai dua, berwarna kuning dan bercorak melayu ini adalah rumah kedua ku. Rumah yang memberiku sahabat dan keluarga baru.

Dari luar tidak ada yang berbeda, kecuali halaman yang semakin rapi dan banyak ditanami bunga. Aku lantas menapaki teras untuk menggapai bel yang terdapat di kanan pintu. Ku tekan satu kali, belum ada jawaban. Ku tekan dua kali, akhirnya dua orang yang pastinya warga asrama menuju ke arah pintu, dua wajah asing yang tak ku kenali. "Ah, ini pasti adik-adik baru," aku berujar dalam hati. 

Aku memperkenalkan diri dan meminta diantarkan ke kamar salah satu kamar kakak angkatan mereka, Sri Rezeki.  Tinggal beberapa saja angkatan lama yang tersisa. Selebihnya sudah barang tentu adik-adik angkatan tahun 2013 ke atas.

Tidak ada Zahara, Syarifah Khairani, Rianti, Dewi, Dwi Eka Wati, teman-teman seangkatanku di asrama ini dan yang lainnya.

Aku baru sadar, kenangan memang telah tertinggal jauh ke belakang. Waktu membawa kita menuju tempat yang berbeda, serta orang-orang yang berbeda pula. Kendati di setiap sudut bangunan ini menceritakan perjalanan hidupku, tapi di dalamnya telah ditempati orang-orang baru yang siap mengisi dengan kenangan lainnya. 

Mungkin memang begitulah hidup. Setiap orang akan datang lantas pergi. Kita hanya perlu membuka diri untuk menerima orang baru yang akan menoreh cerita yang juga baru. Beradaptasi memang tidak mudah, tapi bukan berarti itu tidak mungkin. 

Waktu membawa mereka pergi, tapi waktu juga akan membawa mereka yang baru, untuk kembali. ******




Sabtu, 12 September 2015

Mister Tukul Jalan-Jalan di Tanjungpinang


Siang (12/9) tadi adalah kali pertama aku bertemu artis kondang satu ini. Tukul Arwana, ternyata tidak hanya lucu sebatas di layar kaca. Di belakang layar sikapnya tak jauh berbeda.

Tanjungpinang

Siang itu, Blackberry ku bergetar. Kulirik, lantas kulihat. Ternyata ada satu pesan masuk. Si pengirim pesan, Kepala Dinas Pariwisata Kota Tanjungpinang, Juramadi Esram. Pesan yang terkirim pukul 10.50 WIB tersebut berisikan undangan makan siang untuk rekan media di salah satu restoran makanan laut, yaitu Sei Enam pukul 12.45 WIB. Aku cukup bersemangat. Bukan karena undangan makannya, melainkan Tukul Arwana, artis yang namanya kian melejit lewat program salah satu satu televisi swasta Bukan Empat Mata, juga hadir. Aku sebenarnya bukan penggemar fanatik para figur di televisi. Cuma terkadang, ada rasa penasaran seperti apa dia di belakang layar kaca. Masih tetap selucu itukah?

Untuk menjawab rasa penasaran, aku pun datang ke restoran yang dijanjikan. Memang tidak tepat waktu, alias ngaret. Tapi untunglah menu seafood di salah satu meja belum tandas dilahap teman-teman seprofesi (lho? Hehe). Sembari menuju meja yang kursinya masih kosong, aku mencari-cari dimana sosok Tukul si pembawa acara Famili 100 ini. Toleh kanan, toleh kiri. Nah itu dia, tengah melahap siput gonggong nya. Oh itu rupanya, fikirku. 

Setelah makan...

Entah karena bawaan, atau karena artis yang sudah terbiasa berada di depan banyak orang. Tukul mampu mencairkan suasana. Itu juga terjadi ketika ia menyampaikan, istilahnya sambutan di depan undangan yang hadir. Gelak tawa terus saja mengudara karena kelucuannya. Memang tidak ada yang berbeda. Tetap saja lucu seperti yang ku lihat di TV. 

Tiba-tiba aku ingin foto bareng... Dan eng ing eng. Setelah wawancara aku langsung saja sibuk minta foto bareng. Hahaha. Aku geli membayangkan. Mendadak ngidam pengen foto bareng. Eh eh, ternyata teman-teman wartawan lainnya juga pada heboh minta foto bareng. Buat kenang-kenangan, ujar beberapa di antaranya. 

Nyaris lupa. Oke ini ku jelasin sedikit yah, ada kepentingan apa nih Mas Tukul Arwana ke Tanjungpinang. 

Mas Tukul datang bersama kru Trans 7. Kedatangannya kali ke empat ini ke Kota Tanjungpinang adalah untuk syuting program Mister Tukul Jalan-Jalan yang tayang setiap Sabtu dan Minggu pukul 22.30 WIB. Dimana lokasi tepatnya syuting Mister Tukul Jalan-Jalan? Ada dua lokasi, lokasi pertama Pulau Penyengat dan lokasi kedua adalah Pulau Basing. 

Pulau Penyengat memang tidak asing di telinga. Karena gaungnya saja sudah terdengar hingga ke mancanegara. Tentu saja, karena Pulau Penyengat kaya akan sejarah penting kerajaan Melayu hingga peninggalannya yang melimpah ruah. Pemerintah Kota Tanjungpinang dan juga Pemrov Kepri, saat ini tengah mengupayakan pulau yang hanya berjarak sekitar 2 km dari pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang ini, masuk menjadi warisan budaya dunia. 

Lantas bagaimana dengan Pulau Basing? Aku yakin, banyak dari penduduk Tanjungpinang yang sama sekali tidak mengetahuinya. Lebih simpelnya, Pulau Basing ini terletak tepat berhadapan dengan pantai Tanjungsiambang. Tak tau juga Tanjungsiambang. Alamak oi. Pantai Tanjungsiambang itu berada di Dompak Laut. Pergi saja ke arah kantor gubernur, tapi jangan betul-betul pergi ke kantor gubernurya, harus benar-benar perhatikan petunjuk. Di tepi jalan ada penjelasan kemana arah ke Tanjungsiambang. Jika dirasa sulit, coba temukan pemilik warung yang ada di pinggiran jalan, tanyakan langsung dimana Tanjungsiambang itu hehe.

Sangat dimaklumi jika Tanjungsiambang dan Pulau Basing belum tersohor namanya ke seantero negeri. Wong dua lokasi itu adalah destinasi wisata baru di Kota Tanjungpinang kok. 

Apa yang menarik dari Pulau Basing? Dari cerita yang berkembang dari masyarakat setempat. Basing berasal dari kata 'asing'. Konon katanya, pulau tersebut digunakan oleh penjajah Belanda di jaman kerajaan melayu untuk mengasingkan tahanan. 

Tapi, dari penjelasan Mbak Novyanti, yang tak lain dan tak bukan adalah Produser program Mister Tukul Jalan-Jalan, diketahui dari hasil terawang yang dilakukan Ustad Solepati pada Jumat (11/9) malam, ternyata Pulau Basing dimanfaatkan oleh Belanda sebagai tempat hiburan. Baru seetalah invasi oleh penjajah Jepang, pulau tersebut dialihfungsikan menjadi penjara.

Di pulau Basing terdapat bangunan persegi, yang ketinggiannya menurutku mencapai sekitar 4-5 meter. Luasnya? belum tau. Tapi sangat luas menurutku. Masih kira-kira. Karena saat pertama datang ke lokasi itu, bangunan itu ditutupi pohon besar dan semak belukar. Kalau sekarang bagaimana? Lah aku belum kesana lagi loh. Waktu syuting nggak diajak sih. Kan, akunya jadi sedih. Hiks.

Kapan tayangnya? Menurut informasi sih akan tayang bulan Oktober 2015 mendatang. Lama amat? Loh, kok bawel. Lah wong acaranya Trans7 kok. Terus tanggal berapa persisnya? Hehehe tanya aja sama kru Trans7 nya ya :P. Aku lupa minta kontak kru nya. Coba ntar kita tanya ke Pak Kadisparnya yah.. :D
-------------

                Eyaaaa eyaaaaa eyaaaaaa!!!! 😜😜

    Nah, ini waktu makan di resto Sei Enam 

    Nah ini aku malu-malu ....

    Pulau Basing, Tanjungpinang, Provinsi Kepri.
    Foto diambil dari facebook Kadispar Kota Tanjungpinang, Juramadi Esram. 








Jumat, 28 Agustus 2015

Pesona Alif Stone Park Ranai, Natuna


Sudah pernah ke Natuna? Jika berkunjung kesana, sempatkanlah menyambangi Alif Stone Park. Kamu akan terpesona dengan gugusan batu raksasa di tepi pantai yang sangat memikat.

LARA ANITA, Tanjungpinang

Kunjungan ke salah satu kabupaten di Provinsi Kepri ini sudah saya lakukan beberapa waktu lalu, bertepatan dengan perhelatan MTQ tingkat Provinsi Kepri yang sudah malas kuingat-ingat kapan tepatnya. Tulisan ini sekadar pengingat cerita untuk berbagi keindahan alam yang ada di pulau terluar sebelah utara Indonesia ini.

Salah satu destinasi di Ranai, Natuna ini adalah Alif Stone Park. Alif Stone yang dimiliki Both Sudargo sejak 2006 lalu, awalnya hanya sebuah pinggiran pantai yang terdiri dari bebatuan besar di pesisir darat dan laut. Tapi kemudian disulap menjadi destinasi wisata yang mempesona.

Kenapa dinamakan Alif Stone? Alif dalam simbol Arab mirip angka satu. Nah, dari puluhan batu (atau mungkin saja ratusan) yang ada, terdapat satu batu yang berdiri tegak dan yang paling tinggi di antara bebatuan lainnya. Dari situlah asal mula penamaan Alif Stone itu. 

Saya saja sempat 'melongo' ketika menginjakkan kaki pertama kali di tempat itu. Padahal, itu bukan kali pertama saya melihat pantai. Tapi yang ini benar-benar lain, benar-benr amazing!. Seperti itulah kira-kira.

Saya takjub melihat pasir putihnya yang bersih, gugusan bebatuan raksasa dengan tekstur permukaan yang unik, air laut yang jernih serta panorama gunung Ranai sebagai latar belakangnya. Merupakan momen tepat mengabadikan diri dalam jepretan kamera teman.
















Basing, Pulau Indah Penuh Misteri dan Tersembunyi.


Pulau yang ukurannya tidak lebih besar dari Pulau Penyengat ini semakin menjadi sorotan. Sebab, selain keindahan yang dimiliki, sejarah pasti peninggalan bersejarah di Pulau Basing masih menjadi misteri.

LARA ANITA, Bukit Bestari

Belum lama ini, Batam Pos bersama beberapa awak media lokal lain, berkesempatan mengunjungi salah satu pulau yang belum dikenal baik oleh sebagian besar masyarakat Tanjungpinang, yakni Pulau Basing. Pulau ini memiliki panjang sekitar 750 meter dan di bagian terlebarnya 440 meter. Lokasinya tepat di depan pantai Tanjungsiambang, yang berada di Kelurahan Dompak, Kecamatan Bukit Bestari. Untuk mencapai pulau itu, bisa menggunakan pompong (transportasi laut, red) dari pantai Tanjungsiambang. 

Asal usul penamaan Pulau Basing belum diketahui dengan pasti. Jika merunut dalam dialek Palembang, basing berarti sembarang.  Tapi, warga Tanjungsiambang juga tidak tahu pasti kenapa pulau itu dinamai demikian.

Pulau Basing mulai terdengar gaungnya, sejak pusat Pemerintahan Provinsi Kepri dibangun di Dompak. Ditambah, sejak tahun 2013 lalu,  Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungpinang mulai memperkenalkan pantai Tanjungsiambang menjadi destinasi wisata baru bagi masyarakat Tanjungpinang, Pulau Basingpun perlahan naik pamor.

Saat menginjakkan kaki di pulau ini, mata akan dimanjakan oleh pemandangan asri, hamparan pasir putih turut menambah eksotis pantai di pulau perawan ini. Sama seperti pulau yang tidak berpenghuni pada umumnya. Pulau Basing juga ditumbuhi tanaman sejenis rumput liar nan rimbun yang tingginya melebihi pinggang orang dewasa, serta beragam semak lainnya. Pohon-pohon besar juga terlihat sangat rimbun dan lebat. Uniknya, pulau yang letaknya cukup strategis ini memiliki peninggalan berupa potensi cagar budaya, yang berwujud struktur bangunan. Jaraknya hanya sekitar 100 meter dari bibir pantai.

Bangunan tua itu berbentuk persegi, dengan permukaan yang datar. Sayangnya, tidak bisa diketahui pasti berapa luas bangunan itu. Pasalnya pepohonan rimbun dan semak belukar menutupi sebagian besar bagian bangunan lainnya. Hal unik lainnya, sepanjang dinding bangunan ditumbuhi pohon-pohon dengan akar yang memenuhi dinding. Membentuk pola indah, serupa sarang laba-laba.

Didepan bangunan terdapat satu bangunan kecil lain dengan luas sekitar 3x3 meter persegi, menonjol di depan bangunan utama yang menyerupai gua, seperti pintu masuk. Hanya saja, saat memasuki gua yang telah dihuni puluhan kelelawar itu, sudah dibangun tembok pembatas.

Menurut penuturan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kota Tanjungpinang, Juramadi Esram, diduga dahulunya gua tersebut adalah terowongan yang menjadi pintu masuk ke bangunan utama. Tapi sengaja dibangun tembok pembatas, supaya tidak ada yang bisa memasuki terowongan itu. "Takut sesat," kata Juramadi belum lama ini. Sebab, kata dia, konon kabarnya terowongan yang ada bentuknya berkelok-kelok. "Kita juga tidak tahu kan di dalamnya itu ada apa," ujarnya lagi.

Ia mengakui masih butuh kajian mendalam, terkait peninggalan bersejarah itu. Pasalnya, banyak cerita yang beredar, yang belum bisa dipastikan kebenarannya. "Ada yang bilang bangunan ini adalah tempat pesta para meneer Belanda. Ada juga yang bilang ini penjara zaman Belanda. Nanti bukan tidak mungkin tembok itu akan kita jebol untuk melihat dalamnya," ujarnya.

Perlunya dilakukan kajian terhadap bangunan itu, juga merunut dari laporan teknis Pulau Basing, Pengelolaan Kekayaan Budaya Kota Tanjungpinang tahun 2013, yang menyebutkan, pada tahun 2012 lalu telah dilakukan peninjauan oleh Balai Arkeolog Medan dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batu Sangkar. Dan telah merekomendasikan kepada Pemko Tanjungpinang, untuk segera dilakukan kajian-kajian menyangkut tingkat kerusakan yang ada di Pulau Basing. Dimana yang menjadi pertimbangan, yakni adanya nilai historis objek tersebut yang diperkirakan cukup tinggi, dengan kondisi fisik relatif bagus. Serta perlu segera mendapatkan penanganan yang tepat dan memadai bagi kepentingan lain yang lebih luas. Tapi, dalam laporan itu tidak disebutkan persis struktur bangunan apakah sebenarnya itu.

Teka-teki perihal sejarah bangunan tua itu menjadi buah bibir masyarakat Kota Tanjungpinang. Seorang warga Tanjungsiambang, Ibrahim yang pernah mendiami Pulau Basing pada tahun 1965-1971 malah menduga, struktur bangunan itu adalah peninggalan kerajaan Melayu yang masih berkaitan dengan kerajaan yang dulunya berada di Pulau Penyengat. "Itu penjara Raja Melayu," ujar lelaki kelahiran 1947 itu, saat ditemui di rumahnya yang berlokasi di pantai Tanjungsiambang, Rabu (25/6). Tapi, ia juga tidak bisa memastikan itu. "Asal mulanya tak tau. Orang-orang dulu tak pernah juga cerita apa-apa tentang Pulau Basing. Basing itu pun tak tau artinya apa," ujarnya. Meskipun pulau tersebut masih dipenuhi tanda tanya, Wakil Wali Kota Tanjungpinang, Syahrul beberapa waktu lalu telah mencanangkan, Pulau Basing tersebut menjadi objek wisata lain setelah Pantai Tanjungsiambang. "Kita pasti akan kembangkan Pulau Basing," ujarnya. 





NB : Sehubungan foto pulau Basing terhapus, terpaksa mengambil di Google 😄


Dimarahi Orangtua Sampai Salah Jadwal *) Ujian Calon Pegawai Negeri Sipil Kota Tanjungpinang


Tidak hanya peserta ujian yang deg-degan dalam pelaksanaan tes calon pegawai negeri sipil (CPNS) Kota Tanjungpinang tahun 2014. Rupanya para orangtua pun demikian. Bisa dikatakan, orang tua lah yang paling heboh menanti hasil ujian sang anak di ruang tunggu.

LARA ANITA, Tanjungpinang

Minggu (16/11) kemarin adalah hari ke dua pelaksanaan ujian CPNS Kota Tanjungpinang tahun 2014 yang digelar di lantai tiga Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tanjungpinang. Tahun ini memang sistemnya telah berubah, yakni menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT). Sehingga ujiannya menggunakan sistem komputerisasi. Sebanyak 3697 peserta yang berhasil melalui seleksi administrasi beberapa waktu lalu harus melalui tahapan ini sebelum akhirnya dapat menyandang gelar PNS. Tentu bukan hal mudah untuk dapat melewati tahapan kali ini. Peserta harus mampu mengerjakan 100 soal ujian yang terdiri dari tiga jeni soal, yakni TWK, TIU dan TKP dalam waktu yang singkat, 90 menit saja.

Apakah nilai tinggi dapat menjamin peserta lolos? Tentu tidak. Peserta harus mampu melewati passing grade dari ketiga jenis soal tersebut. Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) passing grade nya 70, Tes Inteligensi Umum (TIU) passing gradenya 75 dan Tes Kepribadian (TKP) passing grade nya 126 sekian. Kendati total jumlah nilai yang diperoleh tinggi, peserta harus mampu melampaui passing grade ke tiga jenis soal itu.  Jika tidak, otomatis peserta gugur. Namun, lulus passing grade di ketiga jenis soal juga tidak menjamin peserta lolos dengan mudah. Kenapa? Karena sistem saat ini menggunakan sistem ranking. Peserta dengan jumlah nilai tertinggi lah yang lebih berhak lulus.

Kemungkinan besar, hal itu juga yang menyebabkan tidak hanya peserta saja yang was-was. Para orang tua dan pengantar yang tengah menunggu juga tidak kalah hebohnya. Saat si anak tengah ujian di lantai tiga Gedung DPRD Kota Tanjungpinang, para orang tua dan pengantar menunggu di lantai dasar. Dimana di lantai tersebut telah disediakan sebuah layar monitor berukuran cukup besar. Layar tersebut berisikan nama-nama peserta ujian, berikut hasil TWK, TIU dan juga TKP. Dari layar itu, para orang tua dan juga pengantar dapat mengetahui hasil peserta. Tidak hanya hasil akhir yang ditampilkan, melainkan setiap detil hasil jawaban yang dipilih. Peserta dinyatakan lulus jika nama yang tertera beserta nilai berwarna hitam. Jika merah yang didapat, maka akan berlaku kebalikannya. Jadi sudah bisa ditebak bagaimana hebohnya para orang tua melihat hasil anaknya dari layar tersebut. Apalagi jika nilai belum mencukupi, tetapi waktu yang tersisa tinggal sedikit lagi. Heboh sekali.

Ada satu kejadian cukup menarik perhatian kemarin. Ketika salah satu peserta telah selesai mengerjakan soal. Saat ia menuruni tangga, tiba-tiba seorang bapak berteriak ke arah peserta tadi. "Kenapa tadi dirubah jawabannya. Jadinya gagal kan," ujar bapak tersebut sedikit kesal ke peserta ujian yang ternyata adalah anaknya itu. Apa pasal? Rupanya sang anak, yang bernama Nur Elisya Rianti itu merubah jawaban pada soal TWK. Sebelum dirubah, nilai sang anak adalah 70. Nilai itu sesuai dengan passing grade TWK. Sayangnya kemudian Elisya merubahnya yang ternyata pilihannya salah, sehingga nilainya turun menjadi 65 untuk TWK, 105 untuk TIU dan TKP 158. Kendati nilai keseluruhannya adalah 328, Otomatis ia gagal, karena tidak lulus di TWK. Hal itu yang membuat sang bapak terlihat kesal. 

Kejadian unik lainnya kemarin, ada satu peserta ujian yang terlambat hadir. Dan tidak diperbolehkan ikut ujian. Seorang panitia ujian, Prasetyo menyayangkan keterlambatan peserta tersebut. Padahal menurutnya, panitia telah mengabarkan perihal kedatangan peserta di lokasi ujian. "Sebelumnya sudah diberitahukan satu jam sebelum mulai sudah hadir ditempat. Tapi malah datang terlambat. Kami juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena yang berada di ruangan adalah pegawai BKN," tuturnya. 

Selain itu, ada juga peserta yang salah jadwal. Peserta bernama Jack Rafdinal dengan tergesa-gesa menghampiri meja panitia yang berada tidak jauh dari tangga ketika waktu hampir menunjukkan pukul 14.00 WIB. Ia dengan gesit akan membubuhkan tanda tangan. Namun, ketika dicari namanya ternyata tidak ada di kertas yang disodorkan oleh panitia. Panitia lantas memastikan kembali, apakah yang bersangkutan benar-benar mengikuti tes pada hari ini (kemarin, red). Jack dengan yakin menjawab kalau hari ini adalah jadwalnya ujian. "iya hari ini kok. Tanggal 16 November pukul 14.00 WIB," tegasnya. Panitia kemudian memintanya untuk mengecek kembali SMS yang dikirim oleh panitia. Berhubung saat itu ponsel yang bersangkutan berada di mobilnya. Dengan berlari kecil, ia langsung mengambil ponsel. Saat menuju panitia kembali, dengan senyum disunggingkan ia berujar kepada panitia. "Kok jadwal di SMS berubah ya?," ujar Jack terlihat menahan malu. Situasi itu sontak mengundang gelak tawa dari panitia dan beberapa orang yang hadir di lokasi tersebut. Ternyata jadwal ujian yang benar adalah Minggu (23/11) mendatang. 

Pelaksanaan ujian di hari kedua ini, diwarnai dengan hujan deras yang mengguyur kawasan Senggarang dan sekitarnya. Kondisi tersebut membuat panitia ujian cukup direpotkan. Bagaimana tidak, ternyata gedung dewan rawan bocor, terutama di bagian pinggiran gedungnya. Sehingga air hujan terjun bebas ke lokasi ujian. Khawatir layar monitor terkena tampias air hujan, panitia lantas memindahkan layar monitor yang awalnya berada dekat dengan tangga naik, ke lokasi yang cukup aman. Jika sedikit saja panitia telat memindahkan, layar pasti sudah rusak. Kenapa? Tidak sampai lima menit layar dipindahkan, hujan turun dengan sangat deras. Sehingga air yang turun ke lantai satu juga dalam jumlah besar, tepat di lokasi awal layar diletakkan. "Untung dah dipindahkan," ujar seorang panitia. Panitia juga terpaksa membersihkan lantai yang banjir akibat bocornya atap gedung. Beruntung ruangan yang digunakan untuk ujian tidak bocor.

Pelaksanaan ujian CAT di Tanjungpinang cukup lama, yakni dimulai sejak tanggal 15 November sampai 1 Desember. Menurut Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Tanjungpinang, Raja Khairani, pelaksanaan memang cukup lama. Sebab, jumlah komputer yang sedikit. Pemerintah Kota Tanjungpinang hanya menyediakan 50 komputer saja. Untuk peserta hanya 48 komputer, karena dua unit digunakan oleh operatornya. Dalam sehari, jumlah peserta yang ikut tes hanya sekitar 240 orang saja. Itupun bergantian, dan dibuat lima sesi setiap harinya. "Kecuali Jumat. Kalau Jumat hanya empat sesi saja," tutur Khairani.

Khairani juga menjelaskan, kenapa tidak boleh ada peserta yang datang terlambat. "Satu menit pun tidak boleh datang terlambat. Karena dengan waktu yang singkat, kehadiran peserta yang terlambat akan mengganggu konsentrasi peserta lainnya," jelasnya. Ia juga menuturkan, hingga saat ini pelaksanaan Tes Kemampuan Bidang (TKB) belum bisa dipastikan. Sebab, belum ada tanggapan terkait itu oleh Kemenpan sendiri. "Kemungkinan besar tidak diadakan," ujarnya. Hal itu merujuk dari kebijakan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) yang mengatakan tahun 2014 ini semua urusan penerimaan CPNS harus sudah selesai.

Selasa, 16 Juni 2015

Pada akhirnya, bukan aku yang terbaik untukmu ya.
Begitu keras hatiku...
Semoga ini terakhir. Semoga ini terakhir.... 

Aku merasa baik-baik saja
Tapi kenapa kerongkongan ku terasa tercekat, nyeri
Eh. Apapula yang mengalir laju dari sudut mataku? 
Apa yang salah denganku? 
Sudahlah sudah..

*****
"Ini bisa saja pertanda bukan? Kalau kamu belum pantas untuk pria yang begitu baik? "
Selalu saja tidak bisa bercermin. Berkaca! 
Sudah ada yang mencintaimu, rela melakukan apapun untukmu. Seharusnya kamu bersyukur
Bukan malah menggores hatinya dengan belati. Dasar bodoh!
Kamu seperti tidak punya hati...

Sekarang kamu merutuki diri? Berdoa saja agar hatimu tidak berbalik nestapa, saat dia menggandeng mesra seseorang yang benar-benar membalas pengorbanannya. 
Percuma air matamu itu! 

Sekarang dadamu sakit? Rasakanlah!!!!
Berdoa saja waktu bisa mengobati penyesalan dan rasa bersalahmu..


Minggu, 17 Mei 2015

Jalan-jalan di Natuna



Natuna, Negeri Mutiara di Ujung Utara Indonesia.

Tidak salah kalau negeri ini diberi julukan mutiara di ujung utara. Kendati letak geografisnya dari Ibu Kota Provinsi Kepri, yaitu Tanjungpinang terbilang jauh. Tapi pesona alamnya tak bisa disepelekan.
***********
Natuna, sebutan untuk negeri yng berjarak sekitar 440 km dari Tanjungpinang yang merupakan Ibu Kota Provinsi Kepri ini bisa ditempuh dengan menggunakan kapal cepat yang memakan waktu sekitar 14 jam. Tapi sangat disarankan menggunakan pesawat terbang jika kamu termasuk orang yang mabuk laut. Apalagi perairan Natuna terkenal dengan gelombangnya yang cukup memambukkan. Untuk naik pesawat terbang bisa melalui Bandara di Raja Haji Fisabilillah (RHF) dengan menggunakan pesawat Indonesia Air. Hanya saja, untuk tarif pesawat rata-rata di atas Rp 1 juta. Cukup mahal bagi kita yang memiliki isi kocek pas-pasan tentunya. Kalau sedang beruntung, mungkin kamu bisa memperoleh tiket pesawat dengan harga sekitar Rp900an.

Ini juga kali pertama bagiku menginjakkan kaki di Ranai, Ibu Kota Kabupaten Natuna, setelah sebelumnya terombang-ambing di lautan selama 14 jam. Mabuk laut? Tentu saja. Hampir gila di dalam kapal? Hahaha nyaris saja. 

Aku belum punya referensi yang cukup untuk menggambarkan kabupaten ini. Hanya sekelumit cerita yang ku dengar dari teman-teman saja. "Ya mirip Tanjungpinanglah," ucap temanku menggambarkan kota Ranai tempo hari. Ah, sepertinya mereka salah. "Apanya yang mirip? Sepi begini," aku berujar dalam hati di hari pertama ketika tiba di Ranai, Minggu (10/5) lalu.

*) Pantai Tanjung

Pantai di di Ranai tidak jauh berbeda dengan pantai yang ada di Bintan. Suasananya masih sangat asri. Rabu (13/5) sore kemarin, akhirnya aku berkesempatan menikmati senja di satu pantai berpasir putih yang oleh masyarakat tempatan disebut Pantai Tanjung. Tapi pantai itu tidak berupa tanjung, melainkan teluk. Karena yng ku lihat lautnya menjorok ke darat."Pantai Tanjung hanya penamaannya saja," ujar temanku yang asli Pulau Laut Di sepanjang pesisirnya banyak ditumbuhi oleh deretan pohon kelapa yang menjadi pemanis alam.

Pantai Tanjung berhadapan langsung dengan Pantai Senoa, yang dalam pengucapan masyarakat Natuna adalah Pulau Senue. Warga setempat juga menyebutnya pulau ibu hamil. Karena bentuknya persis menyerupai ibu hamil yang sedang terbaring. 

Sore itu tidak terlihat pengunjung lain, pun hanya satu dua warung penjaja penawar dahaga dan kudapan yang terlihat buka. Kelapa muda dipesan, beserta kudapan khas Natuna, yaitu Kernas dan Lempa. Kernas semacam gorengan namun berwarna hitam dan terbuat dari ikan tongkol. Akan lebih nikmat jika dimakan dengan sambal yang sudah disediakan sepaket ketika membelinya. Sedangkan Lempa adalah makanan yang terbuat dari beras pulut. Rasanya tidak jauh berbeda dengan Lemper. Tapi isinya merupakan olahan dari ikan tongkol. Rasanya enak. Dan harganya cukup murah. Nikmat sekali dimakan selagi hangat. Apalagi jika ditemani oleh orang tersayang. Suasana romantis akan semakin menyenangkan tentunya.

Dalam hati aku tertawa. Ah ternyata aku salah. Meski suasana Kota Ranai sepi, ternyata pesona alamnya sangat luar biasa. Pantai Tanjung hanya satu dari sekian banyak keindahan alam di Kabupaten Natuna yang membuat kita berdecak kagum. 

    Kelapa muda ditemani Kernas dan Lampa hangat. 

    Backgroundnya pulau Senoa