Jumat, 28 Agustus 2015

Pesona Alif Stone Park Ranai, Natuna


Sudah pernah ke Natuna? Jika berkunjung kesana, sempatkanlah menyambangi Alif Stone Park. Kamu akan terpesona dengan gugusan batu raksasa di tepi pantai yang sangat memikat.

LARA ANITA, Tanjungpinang

Kunjungan ke salah satu kabupaten di Provinsi Kepri ini sudah saya lakukan beberapa waktu lalu, bertepatan dengan perhelatan MTQ tingkat Provinsi Kepri yang sudah malas kuingat-ingat kapan tepatnya. Tulisan ini sekadar pengingat cerita untuk berbagi keindahan alam yang ada di pulau terluar sebelah utara Indonesia ini.

Salah satu destinasi di Ranai, Natuna ini adalah Alif Stone Park. Alif Stone yang dimiliki Both Sudargo sejak 2006 lalu, awalnya hanya sebuah pinggiran pantai yang terdiri dari bebatuan besar di pesisir darat dan laut. Tapi kemudian disulap menjadi destinasi wisata yang mempesona.

Kenapa dinamakan Alif Stone? Alif dalam simbol Arab mirip angka satu. Nah, dari puluhan batu (atau mungkin saja ratusan) yang ada, terdapat satu batu yang berdiri tegak dan yang paling tinggi di antara bebatuan lainnya. Dari situlah asal mula penamaan Alif Stone itu. 

Saya saja sempat 'melongo' ketika menginjakkan kaki pertama kali di tempat itu. Padahal, itu bukan kali pertama saya melihat pantai. Tapi yang ini benar-benar lain, benar-benr amazing!. Seperti itulah kira-kira.

Saya takjub melihat pasir putihnya yang bersih, gugusan bebatuan raksasa dengan tekstur permukaan yang unik, air laut yang jernih serta panorama gunung Ranai sebagai latar belakangnya. Merupakan momen tepat mengabadikan diri dalam jepretan kamera teman.
















Basing, Pulau Indah Penuh Misteri dan Tersembunyi.


Pulau yang ukurannya tidak lebih besar dari Pulau Penyengat ini semakin menjadi sorotan. Sebab, selain keindahan yang dimiliki, sejarah pasti peninggalan bersejarah di Pulau Basing masih menjadi misteri.

LARA ANITA, Bukit Bestari

Belum lama ini, Batam Pos bersama beberapa awak media lokal lain, berkesempatan mengunjungi salah satu pulau yang belum dikenal baik oleh sebagian besar masyarakat Tanjungpinang, yakni Pulau Basing. Pulau ini memiliki panjang sekitar 750 meter dan di bagian terlebarnya 440 meter. Lokasinya tepat di depan pantai Tanjungsiambang, yang berada di Kelurahan Dompak, Kecamatan Bukit Bestari. Untuk mencapai pulau itu, bisa menggunakan pompong (transportasi laut, red) dari pantai Tanjungsiambang. 

Asal usul penamaan Pulau Basing belum diketahui dengan pasti. Jika merunut dalam dialek Palembang, basing berarti sembarang.  Tapi, warga Tanjungsiambang juga tidak tahu pasti kenapa pulau itu dinamai demikian.

Pulau Basing mulai terdengar gaungnya, sejak pusat Pemerintahan Provinsi Kepri dibangun di Dompak. Ditambah, sejak tahun 2013 lalu,  Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungpinang mulai memperkenalkan pantai Tanjungsiambang menjadi destinasi wisata baru bagi masyarakat Tanjungpinang, Pulau Basingpun perlahan naik pamor.

Saat menginjakkan kaki di pulau ini, mata akan dimanjakan oleh pemandangan asri, hamparan pasir putih turut menambah eksotis pantai di pulau perawan ini. Sama seperti pulau yang tidak berpenghuni pada umumnya. Pulau Basing juga ditumbuhi tanaman sejenis rumput liar nan rimbun yang tingginya melebihi pinggang orang dewasa, serta beragam semak lainnya. Pohon-pohon besar juga terlihat sangat rimbun dan lebat. Uniknya, pulau yang letaknya cukup strategis ini memiliki peninggalan berupa potensi cagar budaya, yang berwujud struktur bangunan. Jaraknya hanya sekitar 100 meter dari bibir pantai.

Bangunan tua itu berbentuk persegi, dengan permukaan yang datar. Sayangnya, tidak bisa diketahui pasti berapa luas bangunan itu. Pasalnya pepohonan rimbun dan semak belukar menutupi sebagian besar bagian bangunan lainnya. Hal unik lainnya, sepanjang dinding bangunan ditumbuhi pohon-pohon dengan akar yang memenuhi dinding. Membentuk pola indah, serupa sarang laba-laba.

Didepan bangunan terdapat satu bangunan kecil lain dengan luas sekitar 3x3 meter persegi, menonjol di depan bangunan utama yang menyerupai gua, seperti pintu masuk. Hanya saja, saat memasuki gua yang telah dihuni puluhan kelelawar itu, sudah dibangun tembok pembatas.

Menurut penuturan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kota Tanjungpinang, Juramadi Esram, diduga dahulunya gua tersebut adalah terowongan yang menjadi pintu masuk ke bangunan utama. Tapi sengaja dibangun tembok pembatas, supaya tidak ada yang bisa memasuki terowongan itu. "Takut sesat," kata Juramadi belum lama ini. Sebab, kata dia, konon kabarnya terowongan yang ada bentuknya berkelok-kelok. "Kita juga tidak tahu kan di dalamnya itu ada apa," ujarnya lagi.

Ia mengakui masih butuh kajian mendalam, terkait peninggalan bersejarah itu. Pasalnya, banyak cerita yang beredar, yang belum bisa dipastikan kebenarannya. "Ada yang bilang bangunan ini adalah tempat pesta para meneer Belanda. Ada juga yang bilang ini penjara zaman Belanda. Nanti bukan tidak mungkin tembok itu akan kita jebol untuk melihat dalamnya," ujarnya.

Perlunya dilakukan kajian terhadap bangunan itu, juga merunut dari laporan teknis Pulau Basing, Pengelolaan Kekayaan Budaya Kota Tanjungpinang tahun 2013, yang menyebutkan, pada tahun 2012 lalu telah dilakukan peninjauan oleh Balai Arkeolog Medan dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batu Sangkar. Dan telah merekomendasikan kepada Pemko Tanjungpinang, untuk segera dilakukan kajian-kajian menyangkut tingkat kerusakan yang ada di Pulau Basing. Dimana yang menjadi pertimbangan, yakni adanya nilai historis objek tersebut yang diperkirakan cukup tinggi, dengan kondisi fisik relatif bagus. Serta perlu segera mendapatkan penanganan yang tepat dan memadai bagi kepentingan lain yang lebih luas. Tapi, dalam laporan itu tidak disebutkan persis struktur bangunan apakah sebenarnya itu.

Teka-teki perihal sejarah bangunan tua itu menjadi buah bibir masyarakat Kota Tanjungpinang. Seorang warga Tanjungsiambang, Ibrahim yang pernah mendiami Pulau Basing pada tahun 1965-1971 malah menduga, struktur bangunan itu adalah peninggalan kerajaan Melayu yang masih berkaitan dengan kerajaan yang dulunya berada di Pulau Penyengat. "Itu penjara Raja Melayu," ujar lelaki kelahiran 1947 itu, saat ditemui di rumahnya yang berlokasi di pantai Tanjungsiambang, Rabu (25/6). Tapi, ia juga tidak bisa memastikan itu. "Asal mulanya tak tau. Orang-orang dulu tak pernah juga cerita apa-apa tentang Pulau Basing. Basing itu pun tak tau artinya apa," ujarnya. Meskipun pulau tersebut masih dipenuhi tanda tanya, Wakil Wali Kota Tanjungpinang, Syahrul beberapa waktu lalu telah mencanangkan, Pulau Basing tersebut menjadi objek wisata lain setelah Pantai Tanjungsiambang. "Kita pasti akan kembangkan Pulau Basing," ujarnya. 





NB : Sehubungan foto pulau Basing terhapus, terpaksa mengambil di Google 😄


Dimarahi Orangtua Sampai Salah Jadwal *) Ujian Calon Pegawai Negeri Sipil Kota Tanjungpinang


Tidak hanya peserta ujian yang deg-degan dalam pelaksanaan tes calon pegawai negeri sipil (CPNS) Kota Tanjungpinang tahun 2014. Rupanya para orangtua pun demikian. Bisa dikatakan, orang tua lah yang paling heboh menanti hasil ujian sang anak di ruang tunggu.

LARA ANITA, Tanjungpinang

Minggu (16/11) kemarin adalah hari ke dua pelaksanaan ujian CPNS Kota Tanjungpinang tahun 2014 yang digelar di lantai tiga Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tanjungpinang. Tahun ini memang sistemnya telah berubah, yakni menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT). Sehingga ujiannya menggunakan sistem komputerisasi. Sebanyak 3697 peserta yang berhasil melalui seleksi administrasi beberapa waktu lalu harus melalui tahapan ini sebelum akhirnya dapat menyandang gelar PNS. Tentu bukan hal mudah untuk dapat melewati tahapan kali ini. Peserta harus mampu mengerjakan 100 soal ujian yang terdiri dari tiga jeni soal, yakni TWK, TIU dan TKP dalam waktu yang singkat, 90 menit saja.

Apakah nilai tinggi dapat menjamin peserta lolos? Tentu tidak. Peserta harus mampu melewati passing grade dari ketiga jenis soal tersebut. Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) passing grade nya 70, Tes Inteligensi Umum (TIU) passing gradenya 75 dan Tes Kepribadian (TKP) passing grade nya 126 sekian. Kendati total jumlah nilai yang diperoleh tinggi, peserta harus mampu melampaui passing grade ke tiga jenis soal itu.  Jika tidak, otomatis peserta gugur. Namun, lulus passing grade di ketiga jenis soal juga tidak menjamin peserta lolos dengan mudah. Kenapa? Karena sistem saat ini menggunakan sistem ranking. Peserta dengan jumlah nilai tertinggi lah yang lebih berhak lulus.

Kemungkinan besar, hal itu juga yang menyebabkan tidak hanya peserta saja yang was-was. Para orang tua dan pengantar yang tengah menunggu juga tidak kalah hebohnya. Saat si anak tengah ujian di lantai tiga Gedung DPRD Kota Tanjungpinang, para orang tua dan pengantar menunggu di lantai dasar. Dimana di lantai tersebut telah disediakan sebuah layar monitor berukuran cukup besar. Layar tersebut berisikan nama-nama peserta ujian, berikut hasil TWK, TIU dan juga TKP. Dari layar itu, para orang tua dan juga pengantar dapat mengetahui hasil peserta. Tidak hanya hasil akhir yang ditampilkan, melainkan setiap detil hasil jawaban yang dipilih. Peserta dinyatakan lulus jika nama yang tertera beserta nilai berwarna hitam. Jika merah yang didapat, maka akan berlaku kebalikannya. Jadi sudah bisa ditebak bagaimana hebohnya para orang tua melihat hasil anaknya dari layar tersebut. Apalagi jika nilai belum mencukupi, tetapi waktu yang tersisa tinggal sedikit lagi. Heboh sekali.

Ada satu kejadian cukup menarik perhatian kemarin. Ketika salah satu peserta telah selesai mengerjakan soal. Saat ia menuruni tangga, tiba-tiba seorang bapak berteriak ke arah peserta tadi. "Kenapa tadi dirubah jawabannya. Jadinya gagal kan," ujar bapak tersebut sedikit kesal ke peserta ujian yang ternyata adalah anaknya itu. Apa pasal? Rupanya sang anak, yang bernama Nur Elisya Rianti itu merubah jawaban pada soal TWK. Sebelum dirubah, nilai sang anak adalah 70. Nilai itu sesuai dengan passing grade TWK. Sayangnya kemudian Elisya merubahnya yang ternyata pilihannya salah, sehingga nilainya turun menjadi 65 untuk TWK, 105 untuk TIU dan TKP 158. Kendati nilai keseluruhannya adalah 328, Otomatis ia gagal, karena tidak lulus di TWK. Hal itu yang membuat sang bapak terlihat kesal. 

Kejadian unik lainnya kemarin, ada satu peserta ujian yang terlambat hadir. Dan tidak diperbolehkan ikut ujian. Seorang panitia ujian, Prasetyo menyayangkan keterlambatan peserta tersebut. Padahal menurutnya, panitia telah mengabarkan perihal kedatangan peserta di lokasi ujian. "Sebelumnya sudah diberitahukan satu jam sebelum mulai sudah hadir ditempat. Tapi malah datang terlambat. Kami juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena yang berada di ruangan adalah pegawai BKN," tuturnya. 

Selain itu, ada juga peserta yang salah jadwal. Peserta bernama Jack Rafdinal dengan tergesa-gesa menghampiri meja panitia yang berada tidak jauh dari tangga ketika waktu hampir menunjukkan pukul 14.00 WIB. Ia dengan gesit akan membubuhkan tanda tangan. Namun, ketika dicari namanya ternyata tidak ada di kertas yang disodorkan oleh panitia. Panitia lantas memastikan kembali, apakah yang bersangkutan benar-benar mengikuti tes pada hari ini (kemarin, red). Jack dengan yakin menjawab kalau hari ini adalah jadwalnya ujian. "iya hari ini kok. Tanggal 16 November pukul 14.00 WIB," tegasnya. Panitia kemudian memintanya untuk mengecek kembali SMS yang dikirim oleh panitia. Berhubung saat itu ponsel yang bersangkutan berada di mobilnya. Dengan berlari kecil, ia langsung mengambil ponsel. Saat menuju panitia kembali, dengan senyum disunggingkan ia berujar kepada panitia. "Kok jadwal di SMS berubah ya?," ujar Jack terlihat menahan malu. Situasi itu sontak mengundang gelak tawa dari panitia dan beberapa orang yang hadir di lokasi tersebut. Ternyata jadwal ujian yang benar adalah Minggu (23/11) mendatang. 

Pelaksanaan ujian di hari kedua ini, diwarnai dengan hujan deras yang mengguyur kawasan Senggarang dan sekitarnya. Kondisi tersebut membuat panitia ujian cukup direpotkan. Bagaimana tidak, ternyata gedung dewan rawan bocor, terutama di bagian pinggiran gedungnya. Sehingga air hujan terjun bebas ke lokasi ujian. Khawatir layar monitor terkena tampias air hujan, panitia lantas memindahkan layar monitor yang awalnya berada dekat dengan tangga naik, ke lokasi yang cukup aman. Jika sedikit saja panitia telat memindahkan, layar pasti sudah rusak. Kenapa? Tidak sampai lima menit layar dipindahkan, hujan turun dengan sangat deras. Sehingga air yang turun ke lantai satu juga dalam jumlah besar, tepat di lokasi awal layar diletakkan. "Untung dah dipindahkan," ujar seorang panitia. Panitia juga terpaksa membersihkan lantai yang banjir akibat bocornya atap gedung. Beruntung ruangan yang digunakan untuk ujian tidak bocor.

Pelaksanaan ujian CAT di Tanjungpinang cukup lama, yakni dimulai sejak tanggal 15 November sampai 1 Desember. Menurut Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Tanjungpinang, Raja Khairani, pelaksanaan memang cukup lama. Sebab, jumlah komputer yang sedikit. Pemerintah Kota Tanjungpinang hanya menyediakan 50 komputer saja. Untuk peserta hanya 48 komputer, karena dua unit digunakan oleh operatornya. Dalam sehari, jumlah peserta yang ikut tes hanya sekitar 240 orang saja. Itupun bergantian, dan dibuat lima sesi setiap harinya. "Kecuali Jumat. Kalau Jumat hanya empat sesi saja," tutur Khairani.

Khairani juga menjelaskan, kenapa tidak boleh ada peserta yang datang terlambat. "Satu menit pun tidak boleh datang terlambat. Karena dengan waktu yang singkat, kehadiran peserta yang terlambat akan mengganggu konsentrasi peserta lainnya," jelasnya. Ia juga menuturkan, hingga saat ini pelaksanaan Tes Kemampuan Bidang (TKB) belum bisa dipastikan. Sebab, belum ada tanggapan terkait itu oleh Kemenpan sendiri. "Kemungkinan besar tidak diadakan," ujarnya. Hal itu merujuk dari kebijakan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) yang mengatakan tahun 2014 ini semua urusan penerimaan CPNS harus sudah selesai.

Selasa, 16 Juni 2015

Pada akhirnya, bukan aku yang terbaik untukmu ya.
Begitu keras hatiku...
Semoga ini terakhir. Semoga ini terakhir.... 

Aku merasa baik-baik saja
Tapi kenapa kerongkongan ku terasa tercekat, nyeri
Eh. Apapula yang mengalir laju dari sudut mataku? 
Apa yang salah denganku? 
Sudahlah sudah..

*****
"Ini bisa saja pertanda bukan? Kalau kamu belum pantas untuk pria yang begitu baik? "
Selalu saja tidak bisa bercermin. Berkaca! 
Sudah ada yang mencintaimu, rela melakukan apapun untukmu. Seharusnya kamu bersyukur
Bukan malah menggores hatinya dengan belati. Dasar bodoh!
Kamu seperti tidak punya hati...

Sekarang kamu merutuki diri? Berdoa saja agar hatimu tidak berbalik nestapa, saat dia menggandeng mesra seseorang yang benar-benar membalas pengorbanannya. 
Percuma air matamu itu! 

Sekarang dadamu sakit? Rasakanlah!!!!
Berdoa saja waktu bisa mengobati penyesalan dan rasa bersalahmu..


Minggu, 17 Mei 2015

Jalan-jalan di Natuna



Natuna, Negeri Mutiara di Ujung Utara Indonesia.

Tidak salah kalau negeri ini diberi julukan mutiara di ujung utara. Kendati letak geografisnya dari Ibu Kota Provinsi Kepri, yaitu Tanjungpinang terbilang jauh. Tapi pesona alamnya tak bisa disepelekan.
***********
Natuna, sebutan untuk negeri yng berjarak sekitar 440 km dari Tanjungpinang yang merupakan Ibu Kota Provinsi Kepri ini bisa ditempuh dengan menggunakan kapal cepat yang memakan waktu sekitar 14 jam. Tapi sangat disarankan menggunakan pesawat terbang jika kamu termasuk orang yang mabuk laut. Apalagi perairan Natuna terkenal dengan gelombangnya yang cukup memambukkan. Untuk naik pesawat terbang bisa melalui Bandara di Raja Haji Fisabilillah (RHF) dengan menggunakan pesawat Indonesia Air. Hanya saja, untuk tarif pesawat rata-rata di atas Rp 1 juta. Cukup mahal bagi kita yang memiliki isi kocek pas-pasan tentunya. Kalau sedang beruntung, mungkin kamu bisa memperoleh tiket pesawat dengan harga sekitar Rp900an.

Ini juga kali pertama bagiku menginjakkan kaki di Ranai, Ibu Kota Kabupaten Natuna, setelah sebelumnya terombang-ambing di lautan selama 14 jam. Mabuk laut? Tentu saja. Hampir gila di dalam kapal? Hahaha nyaris saja. 

Aku belum punya referensi yang cukup untuk menggambarkan kabupaten ini. Hanya sekelumit cerita yang ku dengar dari teman-teman saja. "Ya mirip Tanjungpinanglah," ucap temanku menggambarkan kota Ranai tempo hari. Ah, sepertinya mereka salah. "Apanya yang mirip? Sepi begini," aku berujar dalam hati di hari pertama ketika tiba di Ranai, Minggu (10/5) lalu.

*) Pantai Tanjung

Pantai di di Ranai tidak jauh berbeda dengan pantai yang ada di Bintan. Suasananya masih sangat asri. Rabu (13/5) sore kemarin, akhirnya aku berkesempatan menikmati senja di satu pantai berpasir putih yang oleh masyarakat tempatan disebut Pantai Tanjung. Tapi pantai itu tidak berupa tanjung, melainkan teluk. Karena yng ku lihat lautnya menjorok ke darat."Pantai Tanjung hanya penamaannya saja," ujar temanku yang asli Pulau Laut Di sepanjang pesisirnya banyak ditumbuhi oleh deretan pohon kelapa yang menjadi pemanis alam.

Pantai Tanjung berhadapan langsung dengan Pantai Senoa, yang dalam pengucapan masyarakat Natuna adalah Pulau Senue. Warga setempat juga menyebutnya pulau ibu hamil. Karena bentuknya persis menyerupai ibu hamil yang sedang terbaring. 

Sore itu tidak terlihat pengunjung lain, pun hanya satu dua warung penjaja penawar dahaga dan kudapan yang terlihat buka. Kelapa muda dipesan, beserta kudapan khas Natuna, yaitu Kernas dan Lempa. Kernas semacam gorengan namun berwarna hitam dan terbuat dari ikan tongkol. Akan lebih nikmat jika dimakan dengan sambal yang sudah disediakan sepaket ketika membelinya. Sedangkan Lempa adalah makanan yang terbuat dari beras pulut. Rasanya tidak jauh berbeda dengan Lemper. Tapi isinya merupakan olahan dari ikan tongkol. Rasanya enak. Dan harganya cukup murah. Nikmat sekali dimakan selagi hangat. Apalagi jika ditemani oleh orang tersayang. Suasana romantis akan semakin menyenangkan tentunya.

Dalam hati aku tertawa. Ah ternyata aku salah. Meski suasana Kota Ranai sepi, ternyata pesona alamnya sangat luar biasa. Pantai Tanjung hanya satu dari sekian banyak keindahan alam di Kabupaten Natuna yang membuat kita berdecak kagum. 

    Kelapa muda ditemani Kernas dan Lampa hangat. 

    Backgroundnya pulau Senoa

Sembilan Hari Di Natuna

Day 1

14 Jam Perjuangan Menuju Ranai, Kabupaten Natuna

Ku pikir, perjalanan ke Kabupaten Natuna yang memakan waktu 14 jam, sama dengan perjalanan laut ku ke Kabupaten Karimun. Ternyata aku salah. Buktinya, 8 jam pertama berhasil menguras isi perutku. Aku mabuk laut!

LARA ANITA, Natuna

Awalnya tidak ada rencana apapun untuk Pergi ke Kabupaten Natuna dan mengikuti kegiatan Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah dalam rangka Seleksi Tilawatil Quran (STQ) ke VI, yang keberangkatannya direncanakan Sabtu (8/5). Lagipula dari pihak Humas Pemko Tanjungpinang juga telah mengingatkan, tidak mengajak media. Yah alhasil, Jumat (7/5) kemarin, sudah ku niatkan untuk menghabiskan waktu di kontrakan bersama tumpukan baju yang akan ku setrika. Sudah ku bayangkan bermalas-malasan di rumah. Setelah setrikaan selesai, maka akan ku habiskan untuk tidur. What a great idea! Belum lagi ke esokan harinya aku libur. Ah, nikmatnya dunia. 

Tapi rupanya Tuhan punya kehendak lain. Sekitar pukul 10.00 WIB pagi itu, Blackberry ku berdering. Ku lirik sepintas dan tertulis nama salah satu pejabat pemerintahan yang sudah cukup ku kenal baik. Gunawan Grounimo. Saat ini beliau menjabat sebagai Asisten Administrasi Umum di Pemerintah Kota Tanjungpinang. Awak media tentulah akrab dengannya. Karena sebelumnya ia adalah Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Tanjungpinang yang sehari-harinya welcome dengan wartawan yang menemuinya dan menanyainya ini itu. Kami menyebut beliau Kadis nyentrik. Karena disamping gayanya yang cuek, gaya bicaranya juga ceplas-ceplos. 

Ku angkat BB ku. Dengan cepat beliau bilang mengajakku dan dua temanku yang seprofesi yaitu Saud (wartawan Antara) dan Albet (wartawan Posmetro). Aku terkesiap, dan sedikit kaget. "Besok pagi kita berangkat jam 6," ujarnya dengan cara bicaranya yang khas. Jadilah kami bertiga berangkat dadakan. Dengan dalam hati berkata "Oh My God. Belasan jam!". Dan aku segera berusaha menyelesaikan setrikaanku secepat kilat. 

Sore harinya, sekitar pukul 17.00 WIB, setelah menyelesaikan tugas mengirim berita, aku pun ter birit-birit menyiapkan kebutuhan untuk keberangkatan esok hari. Dan bla bla bla. Sekitar pukul 21.00 WIB, semua kebutuhan terpenuhi, dan dilanjutkan dengan packing-packing. Fuih, sebelum tengah malam selesai semua. Dan lihatlah, koperku sudah menggelembung penuh sesak. Maklum saja, kami baru pulang kembali ke Tanjungpinang tanggal 17 Mei 2015. Atau sekitar 8 hari di Kabupaten itu. 

*) Hari Keberangkatan

Sabtu (8/5)

Aku kelimpungan. Ku tatap jam di layar Ponselku, pukul 04.16 WIB. Bergegas aku menuju kamar mandi dengan sigap. Padahal di hari biasa, bisa memakan waktu satu jam setelah bangun kemudian menuju kamar mandi. Tapi hari ini ajaib. 


Waktu masih menunjukkan pukul 05.00 WIB, buru-buru aku menuju Jalan Pramuka ditemani adikku dengan satu koper ukuran sedang yang penuh dengan segala macam tetek bengek urusan wanita. Seperti yang dijanjikan, pukul 05.30 WIB Pak Gun akan menjemput di simpang eks Kantor Gubernur. Menjemput kami bertiga. 

Ah sudahlah, tidak perlu memperpanjang mukadimah. Kami pun dijemput dan langsung menuju Pelabuhan Sri Bintan Pura (SBP) Tanjungpinang. Susah payah juga membawa koper ini. Jadwal keberangkatan jam 07.00 WIB. Tapi ternyata tidak tepat waktu lantaran menunggu orang nomor 1 di Kota Tanjungpinang yang mau melepas seratusan kafilah. Duh Bapak. Bisa on time sesekali tidak ya? Bisa dibayangkan bangun jam empat subuh, bahkan tidak sedikit ibu-ibu kafilah yang bangun lebih awal lagi demi tidak tertinggal. Eh malah harus menunggu lagi. Kzl banget. Alhasil, baru berangkat sekitar pukul 08.00 WIB. Ya sudahlah. Lupakan Kzl tadi.

*) 14 Jam Yang Menyiksa

Sub judulnya menyeramkan? Tentu tidak lebih menyeramkan dari pengalaman ku. 14 jam? Ini pengalaman perdanaku. Kalau naik kapal besar sih biasa. Tapi ini kapal ferry, yang lingkupnya sempit. Jangankan untuk berbaring dengan nyaman, untuk sekedar meluruskan kaki saja sulit. Kakiku saja sudah bergelimpangan kemana-mana hanya sekedar untuk lurus. Parahnya lagi, ternyata aku mabuk laut. Ini pengalaman perdana. Benar-benar perdana! Perjalanan laut 14 jam menggunakan ferry, ditambah gelombang yang tinggi. Aku shock berat. Baru dua jam bertolak, perutku sudah terasa seperti dikocok-kocok. Aku mual. Antimo yang sudah ku telan ternyata tidak bereaksi apa-apa. Mana toilet? Aku segera menoleh ke pintu paling belakang. Kucari tulisan itu. Yap dapat. Tulisan menunjukkan letak toilet. Buru-buru aku menuju itu. Sialnya aku dalam kondisi yang kurang menguntungkan, aku sempoyongan karena kapal goyang. 

Delapan jam pertama, perutku memang terkuras habis. Sudah lima kali bolak balik toilet, hingga tidak ada tersisa sedikitpun lagi yang bisa dikeluarkan. Lemas sudah pasti. Kalau sedang berada di acara TV, bisa dipastikan aku akan langsung melambaikan tangan ke kamera. "Stop! Aku ngga sanggup!" Mungkin aku akan berteriak seperti itu. Tapi rupanya aku cuma bisa pasrah.  

Ku paksakan makan dua suap lauk, lantas kemudian minum antimo kembali. Beberapa saat kemudian, yes! Akhirnya aku mengantuk. Setelah bangun? Horreeyyy, sudah tidak semabuk sebelumnya. Setidaknya, dengan tidak mabuk bisa mengurangi tingkat stres ku naik kapal itu. 

    Di sela mabuk yang menyiksa.

Ada lagi yang lebih parah. Satu peserta STQ yang sedang hamil, harus pasrah mabuk laut dan juga muntah-muntah seperti aku. Tapi tentu saja kondisi ibu hamil akan jauh lebih buruk kan?. Si ibu itu bahkan harus dibantu dipapah oleh orang lain. Nyaris pingsan. Pikirku, kenapa peserta dibiarkan naik kapal? Opo ora pengen menang? Kasian banget ibu ini yang dituntut menjadi pemenang untuk mengharumkan Tanjungpinang. Tapi pernyataan itu ku simpan dulu, nanti kutanyakan ke pejabat yang bersangkutan sesampainya di Natuna, dan ketika berjumpa dengannya. 

Aku sedang bersemangat, karena 14 jam telah berlalu. Kecepatan kapal mulai melemah. Sekitar pukul 22.20 WIB, kami pun sampai di tempat tujuan. Dalam hati aku berharap, semoga 14 jam penuh perjuangan ini tidak sia-sia. ***



Natuna, Minggu (9/5)

Minggu, 22 Maret 2015

Tolong Berusaha Lebih Keras

Boleh aku memintamu berusaha kembali? Berusaha lebih keras? Ekspektasiku terlalu tinggi untuk kau dan aku menjadi 'kita'. Aku sudah terlalu yakin kita bisa menaklukkan dunia. Bisakah kau berusaha mematahkan tradisi ini? Tradisi dan keyakinan yang saat ini membelenggu kita, terikat mati. Tak bisakah perlahan kau longgarkan simpul mati yang begitu menjerat erat itu? Kau sudah berjanji bukan?  Dan aku memegang janjimu. Salahkah? 

Bolehkah aku memintamu berusaha lebih keras lagi? Aku tidak meminta segera, aku akan menunggu. Satu musim, dua musim, bermusim-musim? Tolong jangan minta aku berhenti. Aku bahkan tidak perlu menjelaskan kenapa bisa begini. 

Jangan anggap aku gila. Mungkin aku sudah gila sejak pertama mengiyakan pertemuan pertama kita. Masih ingat? Kamu tau? Saat itu aku harus berjibaku, berdebat hebat antara logika dan perasaan. Kau yang meyakinkanku. Akupun lantas mempercayaimu.

Tolong berusaha. Bisakah? Maukah? Bersediakah?